Aspirasi SantriEditor's PicksKail (Kajian Ilmu)KronikaMasyayikh

NU Garis Lucu: Ketika Konflik Elit PBNU Berubah Menjadi Sinetron Getir

Drama di tubuh PBNU memasuki babak baru yang tidak kalah mengejutkan dari episode sebelumnya. Setelah Rais Am secara resmi memecat Gus Yahya dan sejak tanggal 26 November 2025 beliau tidak lagi sah menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, serta tidak berhak melakukan kegiatan apa pun atas nama PBN; hari ini (29 November) giliran Gus Yahya “membalas” dengan memecat Sekjen Syaifullah Yusuf dan Bendahara Umum Gus Adfan.

Yang membuat jamaah NU terperangah bukan semata kabar pemecatannya, tetapi fakta bahwa pemecatan itu dilakukan oleh Ketua Umum yang status jabatannya sendiri sudah tidak ada secara administratif.

Kejadian ini secara tidak langsung melahirkan istilah baru di kalangan warga NU: NU Garis Lucu.

Jika di luar sana selama ini muncul gerakan yang menamakan diri “NU Garis Lurus”, maka hari ini warga NU menyaksikan versi sebaliknya, yaitu NU Garis Lucu, yakni NU yang kelucuannya bukan berasal dari guyonan ala pesantren atau humor kiai kampung yang cerdas, melainkan dari tindakan absurd elit struktural yang justru menimbulkan tawa getir.

Mengapa ini menjadi hiburan bagi kaum nahdliyin? Setidaknya ada tiga alasan.

Pertama, absurditas tindakan yang bertentangan dengan logika organisasi.

Dalam organisasi mana pun, ketika pimpinan sudah diberhentikan, maka seluruh kewenangan otomatis gugur. Tetapi di PBNU, yang terjadi justru sebaliknya: Ketua Umum yang sudah dinyatakan non-aktif masih bisa masuk kantor, memimpin rapat harian, dan mengeluarkan surat pemecatan terhadap dua pejabat penting.

Publik bawah melihat ini seperti adegan sinetron yang setting-nya salah tetapi sutradaranya tetap memaksanya berjalan.

Kedua, jamaah bingung, tetapi kebingungan itu berubah menjadi komedi situasional.

Warga NU akar rumput merasa heran sekaligus geli: bagaimana mungkin para kiai, yang seharusnya mengajarkan adab, keteduhan, dan kecerdasan moral, justru tampil dalam konflik struktural yang menyerupai drama keluarga rebutan warisan?

Kebingungan jamaah berubah menjadi tawa pahit, karena satu-satunya cara untuk tidak ikut stres adalah menjadikannya bahan humor internal.

Ketiga, tontonan gratis yang tak sengaja diciptakan elit NU.

Di tengah suhu politik PBNU yang memanas, jamaah di bawah justru menyaksikan tontonan yang menghibur, meski pada saat yang sama menyayat hati. Orang luar NU pasti tertawa lebih keras, heran melihat ulama dan kiai yang biasanya identik dengan kewibawaan kini tampil “berlakon” seperti aktor sinetron.

Di luar sana, ini komentar yang kira-kira muncul: “Wah, ternyata sinetron terbaik bulan ini bukan di televisi, tapi di PBNU.”

Padahal sesungguhnya, bila dilihat lebih dalam, yang terjadi bukanlah komedi yang disengaja, melainkan kekacauan berpikir elit yang terjebak dalam logika politik kekuasaan. Mereka nampaknya lupa bahwa jabatan di NU bukanlah kursi politik yang bisa dipertahankan dengan manuver, tetapi amanah moral dan spiritual dari para muassis yang dibangun dengan air mata, doa, dan tirakat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam keadaan yang sangat memanas, para elit justru berpikir secara reaktif, bukan reflektif. Mereka seperti terjebak dalam logika “asal bergerak dulu, nanti urusan sah atau tidak belakangan”, sebuah cara berpikir yang kontras dengan prinsip tabayyun, tawasuth, dan tasamuh yang seharusnya melekat pada diri setiap pengurus jam’iyyah.

Bagi jamaah NU, situasi ini menjadi misteri lain: bagaimana cara berpikir para elit itu sebenarnya? Mengapa mereka tidak sungkan mempertontonkan konflik secara telanjang di ruang publik? Dan apakah mereka sadar bahwa jamaah menonton, menilai, dan menimbang karakter para pemimpinnya?

Pada akhirnya, warga NU menyaksikan adegan demi adegan ini sambil meringis. Mereka tidak ingin organisasi sebesar NU menjadi panggung sandiwara, tetapi kenyataan hari ini memaksa mereka untuk menyaksikannya.

Warga di bawah tetap mencintai para kiai, tetap menghormati ulama, tetapi tidak bisa menutupi kenyataan bahwa elit NU telah menempatkan diri mereka dalam posisi yang patut ditertawai.

Ada hikmah kecil dari semua ini: NU terlalu kuat untuk runtuh hanya karena kelucuan elitnya. Yang menjaga NU bukan kursi struktural, tetapi barokah para muassis dan keteguhan jamaah yang tetap lurus hati.

Dan mungkin, di tengah situasi yang panas ini, sedikit kelucuan memang diperlukan sebagai pengingat bahwa bahkan para kiai pun manusia, dan manusia memang kadang bertingkah lucu. Namun setelah tawa itu reda, para elit perlu kembali eling bahwa mereka sedang membawa nama besar jam’iyyah, bukan nama pribadi atau faksinya masing-masing. (Gus Damas/SN)

Related posts