Aspirasi SantriInfo PesantrenKail (Kajian Ilmu)

Kini Banyak Pesantren Sekedar Kos-kosan Bernuansa Agama

Pesantren Salafiyah yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar lembaga pendidikan keagamaan, melainkan benteng peradaban bangsa.

Sejak berabad-abad lalu, pesantren tumbuh dari rahim masyarakat sebagai lembaga swadaya yang hidup, mandiri, dan berdedikasi penuh bagi kemaslahatan umat. Dari sinilah lahir generasi yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, semangat kebangsaan, dan daya juang melawan ketidakadilan.

Pada masa kolonial, ketika bangsa ini terbelenggu dalam cengkraman penjajahan, pesantren menjadi pusat pendidikan sekaligus pusat perlawanan. Para kiai mendidik santrinya bukan sekadar membaca kitab, tetapi juga memahami makna jihad dalam konteks membela tanah air.

Dari pesantren-pesantren inilah lahir tokoh-tokoh perjuangan seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, KH Wahid Hasyim, KH Zainul Arifin, KH As’ad Syamsul Arifin, dan banyak lagi pahlawan yang memimpin pasukan rakyat menentang penjajah.

Mereka adalah bukti sejarah bahwa ilmu agama yang diajarkan di pesantren tak pernah terlepas dari tanggung jawab sosial dan cinta tanah air.

Para kiai pada masa itu merupakan sosok ulama yang mumpuni dan kosmopolit. Banyak di antara mereka menimba ilmu di kota Makkah dan Madinah, lalu kembali ke nusantara membawa semangat pembaruan Islam yang berakar kuat pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Pesantren menjadi pusat peradaban Islam Nusantara—tempat ilmu fiqih, tauhid, tafsir, hadits, falak, tarikh, syariah, siyasah, hingga adab dan akhlak diajarkan dengan penuh kedalaman dan ketulusan.

Lebih dari itu, pesantren dahulu mandiri dalam segala hal. Tanpa bantuan pemerintah, para kiai menghidupi lembaganya dengan kemandirian ekonomi dan swadaya masyarakat. Kurikulum, sistem, dan metode pengajarannya dikembangkan secara otonom—lahir dari kebutuhan real masyarakat, bukan sekadar mengikuti kebijakan administratif.

Para santri belajar bukan demi ijazah, melainkan demi barakah ilmu dan keberkahan hidup. Ukuran keberhasilan bukan pada gelar akademik, tetapi pada penguasaan ilmu dan keteladanan akhlak.

Pesantren: Kos-Kosan Bernuansa Agama

Namun, zaman berubah. Arus modernisasi, globalisasi, dan tuntutan zaman menuntut pesantren beradaptasi. Kini, banyak pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal di bawah Kementerian Agama atau Kementerian Pendidikan.

Hal ini bukan sesuatu yang buruk—bahkan menjadi keniscayaan agar santri mampu berkompetisi di dunia yang semakin terbuka. Pesantren yang dulunya fokus pada pengkajian kitab kuning, kini juga menyiapkan santri menghadapi era digital, teknologi, dan profesionalitas kerja.

Namun, di sinilah letak tantangannya. Orientasi pendidikan di banyak pesantren kini mulai bergeser. Prioritas santri lebih fokus mengejar kelulusan sekolah formal ketimbang mengkaji kitab turats (klasik).

“Mondok” tidak lagi dimaknai sebagai perjalanan spiritual menuntut ilmu, melainkan sekadar tempat tinggal selama bersekolah. Ukuran tamat pesantren pun bukan dari khatamnya Ihya Ulumuddin, Hikam, atau Tafsir Jalalain tetapi dari kelulusan SMA atau Madrasah Aliyah.

Fenomena ini memunculkan keprihatinan mendalam di kalangan kiai dan pengasuh pesantren. Mereka dihadapkan pada dilema besar: mempertahankan orisinalitas pesantren Salafiyah dengan seluruh kekayaan tradisinya, atau beradaptasi pada tuntutan modernitas yang kerap mengikis ruh keilmuan klasiknya.

Modernisasi memang penting, tetapi kehilangan jati diri juga berbahaya. Karena tanpa ruh salafiyah, pesantren kehilangan makna dan hanya menjadi sekolah berasrama dengan nuansa religius belaka.

Padahal, kekuatan pesantren justru terletak pada ruh-nya: santri ngaji adab, keikhlasan, kesederhanaan, dan ketulusan dalam menuntut ilmu. Nilai-nilai ta’dhim kepada guru, tawadhu’ terhadap ilmu, dan semangat khidmah kepada masyarakat adalah ciri khas pesantren yang tak bisa tergantikan oleh sistem pendidikan manapun.

Di pesantren, ilmu bukan hanya dipelajari, tetapi juga dihayati dan dihidupi. Inilah yang membentuk karakter santri yang berjiwa ulul albab — cerdas intelektual, matang spiritual, dan kokoh moral.

Kini, tugas besar kita adalah mengembalikan orientasi pendidikan pesantren agar tetap berakar kuat pada tradisi salafiyah, sekaligus berdaulat dalam menjawab tantangan zaman.

Modernisasi tidak boleh dimaknai sebagai westernisasi. Adaptasi teknologi dan kurikulum formal harus diimbangi dengan penguatan kajian kitab kuning, tafsir klasik, fiqih, tasawuf, serta penanaman nilai-nilai akhlaqul karimah. Pesantren harus tetap menjadi ruang penyemaian adab dan peradaban—tempat lahirnya ulama, pemimpin, dan pejuang bangsa yang berjiwa luhur.

Kiai dan pesantren telah terbukti menjadi benteng terakhir penjaga moral bangsa. Sejarah mencatat, ketika negara nyaris kehilangan arah, pesantren tetap tegak menjaga nilai-nilai Islam, kemanusiaan, dan keindonesiaan. Karena itu, menjaga pesantren berarti menjaga bangsa. Menguatkan pesantren berarti memperkokoh peradaban.

Di tengah derasnya arus perubahan, semoga pesantren tetap menjadi qiblatul ilmi dan madrasatul ummah — sumber ilmu dan moral bagi umat, penjaga ruh bangsa dari generasi ke generasi. (SN)

Oleh: Gus Damas Ahhasy. SS.

Related posts