Aspirasi SantriEditor's PicksKaderisasiPolitik

Negeri Ini Hari Ini Butuh Ulama dan Kyai Yang Bernyali

Indonesia sedang berada di persimpangan jalan yang penuh kegelisahan. Krisis politik kian tajam, aksi demonstrasi meledak di mana-mana, korupsi merajalela dari kementerian hingga perusahaan BUMN, sementara para pejabat publik terlihat semakin hedonis dan tidak peka pada penderitaan rakyat.

Di sisi lain, rakyat kecil menjerit karena harga kebutuhan pokok melambung, pemutusan hubungan kerja massal tak terbendung, dan media sosial memantik kegaduhan tanpa henti. Situasi ini menuntut kehadiran suara moral yang jernih, teduh, sekaligus tegas. Dan di titik inilah peran ulama serta kiai menjadi sangat strategis.

Sejarah panjang Indonesia membuktikan, ulama dan kiai bukan sekadar pengajar kitab kuning atau pemimpin pesantren, melainkan juga benteng moral bangsa. Dari masa perjuangan melawan kolonialisme, mereka menjadi motor perlawanan sekaligus penuntun arah.

Kini, di tengah krisis multidimensi, ulama seharusnya kembali mengambil posisi sebagai moral compass bangsa: mengingatkan bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan kesempatan untuk berfoya-foya; bahwa jabatan adalah sarana pengabdian, bukan kendaraan untuk memperkaya diri.

Hari ini, rakyat butuh ulama yang berani menegur penguasa yang salah arah. Korupsi dibiarkan, rakyat dikhianati, keadilan dijual murah, tetapi para tokoh agama memilih diam seribu bahasa. Sejarah mencatat, ulama yang benar selalu berdiri di depan, bukan bersembunyi di balik fasilitas dan jabatan hadiah penguasa.

Rakyat makin miskin, pejabat makin hedonis. Ketidakpekaan ini adalah penghinaan terang-terangan terhadap penderitaan rakyat. Diamnya ulama hanya akan membuat pejabat makin leluasa berpesta pora di atas penderitaan rakyat.

Sekali lagi, ulama harus bersuara lantang: mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa moral akan menjadi bencana, dan kebijakan tanpa nurani hanya akan mempercepat keruntuhan bangsa.

Jaga Generasi dari Kehancuran Moral

Di tengah kebisingan sosial media, anak-anak muda kehilangan arah. Mereka dijejali hoaks, diseret arus kebencian, dan dipengaruhi gaya hidup instan. Jika ulama tidak hadir memberi bimbingan moral, generasi bangsa akan tumbuh apatis dan kehilangan idealisme.

Untuk itu, saatnya ulama tampil di panggung publik—bukan hanya di mimbar masjid—untuk merebut ruang narasi, mengisi sosial media dengan nilai kebenaran, serta mendidik generasi agar tidak terjebak dalam gelombang nihilisme.

Hari ini, ulama dan kyai sedang diuji. Dan ujian terbesar bagi ulama hari ini adalah: apakah mereka akan tetap menjadi mercusuar moral yang menuntun bangsa, atau justru menjadi penjaga status quo yang membiarkan rakyat terus tertindas?

Bangsa ini membutuhkan suara ulama dan kiai lebih dari sebelumnya. Suara yang bukan hanya menyejukkan hati, namun juga membangunkan kesadaran, mengingatkan penguasa, dan menuntun generasi.

Jika ulama konsisten menjaga peran ini, Indonesia akan tetap memiliki cahaya di tengah gelapnya krisis. Dan penulis yakin, pada akhirnya ulama akan selalu menjadi pelita moral yang mengarahkan bangsa agar tidak tersesat di jalan sejarah. (SN)

Penulis: Gus Damas Alhasy, SS.

Related posts