Di tengah hiruk-pikuk kegaduhan yang mencuat dari pucuk pimpinan Nahdlatul Ulama, sekarang kita bisa mengambil satu kesimpulan yang semakin terang: NU sama sekali tidak bermasalah. Yang bermasalah adalah PBNU-nya.
Lebih tepatnya: segelintir elit di PBNU lah yang menjadikan organisasi keulamaan terbesar di dunia ini sebagai ruang eksperimen politik dan laboratorium ambisi pribadi mereka.
NU, sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah, tetap kokoh di akar rumput. Tradisi mengaji tetap hidup. Pesantren tetap jalan. Majelis-majelis taklim tidak pernah sepi. Kiai kampung tetap istiqamah mengajar kitab kuning tanpa gaji, tanpa pamrih, tanpa peduli siapa Ketua Umum atau siapa Rais Am. Di lapisan inilah NU sejati hidup, di tangan para kiai lapisan bawah, bu nyai, guru ngaji, dan para santri.
Tetapi di pusat, di PBNU, NAHDLATUL ULAMA sering menjadi sekadar bendera, bukan amanah. Para elitnya memperlakukan NU sebagai jalan tol menuju kekuasaan, bukan wadah perjuangan keummatan. Di sinilah sumber masalah itu meledak: bukan pada NU sebagai nilai, tetapi pada PBNU sebagai struktur yang kini digelayuti ambisi.
PBNU hari ini terperangkap dalam perang urat syaraf antara otoritas Syuriah dan kekuasaan Tanfidziyah. Bukan sekadar beda pendapat, tetapi adu legitimasi, adu pengaruh, adu kuasa.
Ketua Umum KH Cholil Yahya Staquf dan Rais Am KH Miftakhul Achyar berseberangan dalam narasi, saling menegaskan mandat, sementara Sekjen Saifullah Yusuf memegang ratusan SK Pengurus PW dan PC seperti memegang kartu truf politik.
Di daerah, ratusan PWNU dan PCNU dibuat gamang. SK-SK ditahan, tidak ditandatangani, digantung, diperlambat, bukan karena alasan administratif, tetapi karena menjadi alat bargaining untuk memastikan loyalitas.
NU daerah yang seharusnya fokus khidmah menjadi tersandera oleh tarik-menarik kepentingan pusat.
Di saat bersamaan, isu-isu lain ikut mencemari: tarik-menarik kewenangan terkait tambang, polemik kuota haji yang dipakai sebagai alat tekanan politik, hingga kontroversi narasumber AKNU yang pro-Zionis, semuanya menambah keruh wajah PBNU.
Padahal para muassis mendirikan NU untuk melawan penjajah, menentang penindasan, dan menjaga martabat umat, bukan untuk menjadi pasar gelap kepentingan ekonomi dan geopolitik.
Masalahnya sederhana: NU terlalu besar untuk dipimpin dengan nafsu pribadi, dan terlalu suci untuk dijadikan komoditas politik. NU tidak didirikan untuk diseret ke meja tawar-menawar kekuasaan. NU berdiri sebagai benteng moral, bukan broker elektoral.
Tetapi PBNU kini kerap memperlihatkan wajah sebaliknya, arusnya mengalir ke pusat kekuasaan negara, bukan ke pesantren; ke istana, bukan ke langgar; ke meja rapat pejabat, bukan ke majelis ilmu.
Akibatnya, akibat tingkah polah para elitnya, kerusakan citra PBNU dianggap sebagai kerusakan NU. Padahal itu keliru fatal. NU jauh lebih tua, lebih kuat, dan lebih bermartabat daripada siapapun yang sedang duduk di PBNU.
NU bukan milik ketua umum, bukan milik rais am, bukan milik sekjen, bukan milik siapapun kecuali umat dan para muassisnya.
Sebab NU bukan organisasi yang hidup dari rapat-rapat PBNU. NU hidup dari doa para kiai. NU hidup dari kitab-kitab yang dikaji setiap subuh. NU hidup dari zikir, wirid, tirakat, akhlak, dan khidmah. Sementara PBNU hanya menjadi pengelola—bukan pemilik.
Maka kritik terhadap PBNU bukanlah serangan kepada NU. Justru kritik itu adalah bentuk cinta kepada NU. Cinta yang ingin mengembalikan NU ke marwahnya. Cinta yang ingin mengingatkan para elit PBNU bahwa mereka hanya khadim, bukan raja. Mereka hanya pelayan, bukan pemilik. Mereka memegang mandat, bukan kedaulatan.
NU tidak bermasalah. Umat NU tidak bermasalah. Pesantren tidak bermasalah. Kiai kampung tidak bermasalah.
Yang bermasalah adalah PBNU yang terlalu sibuk dengan politik, terlalu menikmati kedekatan kekuasaan, terlalu asyik dengan manuver jabatan. Dan jika mereka tidak segera sadar, sejarah tidak akan mencatat mereka sebagai pemimpin NU, melainkan sebagai elit yang merusak NU dari dalam.
Maka:
- Kembalilah kepada khidmah.
- Kembalilah kepada tirakat.
- Kembalilah kepada amanah Hadrotus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.
Apapun yang terjadi, NU akan tetap berdiri, bahkan bila seluruh PBNU runtuh sekalipun. Tetapi seorang elit PBNU tidak akan berarti apa-apa tanpa NU.
Dan itu seharusnya cukup untuk membuat mereka malu. (SN)
Oleh: Gus Damas Alhasy, SS (salah satu kader alumni MKNU)
