Aspirasi SantriKail (Kajian Ilmu)MaklumatSantri Keren

Bagaimana Sikap Santri Di Tengah Krisis Politik Saat Ini

Dalam dua pekan terakhir, Indonesia diguncang krisis politik yang memanas. Demonstrasi besar-besaran terjadi di depan Gedung DPR RI Jakarta dan beberapa kota besar. Bahkan, aksi anarkis seperti pembakaran gedung DPR, penjarahan rumah pejabat, dan jatuhnya korban jiwa menambah tegangnya suasana nasional.

Di tengah kondisi ini, banyak pihak mempertanyakan: bagaimana seharusnya sikap santri dan pesantren menghadapi krisis politik yang mengkhawatirkan ini?

Berikut ini, penulis coba berbagi wacana bagaimana seharusnya sikap santri dan pesantren di tengah situasi krisis yang terjadi saat ini:

1. Menjaga Ketenangan dan Keteguhan Iman

Pesantren adalah benteng moral bangsa. Santri dituntut untuk tetap tenang, tidak panik, dan memperbanyak doa agar tidak terjerumus dalam fitnah. Rasulullah ﷺ bersabda:

سَتَكُونُ فِتَنٌ، الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي، وَمَنْ يُشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ، فَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ

“Akan datang fitnah, orang yang duduk di dalamnya lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, yang berjalan lebih baik daripada yang berlari. Siapa yang mencari-cari fitnah, ia akan diseret kepadanya. Barang siapa mendapat tempat berlindung, hendaklah ia berlindung di sana.” (HR. Abu Dawud)

Artinya, dalam situasi kacau, umat Islam dianjurkan untuk menghindari keterlibatan dalam hal-hal yang dapat menambah kerusakan.

2. Tidak Terprovokasi dan Menjadi Penyejuk

Santri harus menghindari segala bentuk provokasi, baik di dunia nyata maupun media sosial. Jangan sampai terlibat dalam aksi anarkis atau ujaran kebencian. Sebaliknya, santri harus menjadi penyejuk, penebar kedamaian, dan pengajak pada persatuan.

3. Fokus pada Ilmu dan Pendidikan

Tugas utama santri adalah menuntut ilmu. Situasi politik yang panas tidak boleh mengganggu kegiatan belajar mengajar di pesantren. Justru, krisis ini harus menjadi pelajaran tentang pentingnya adab, etika sosial, dan pemahaman mendalam terhadap ajaran Islam yang menekankan perdamaian.

4. Memberi Edukasi kepada Masyarakat

Pesantren dan para kyai harus mengambil peran aktif memberikan pencerahan kepada umat melalui ceramah, pengajian, dan media sosial. Pesan utama yang harus disampaikan adalah pentingnya menjaga persatuan, menghindari fitnah, dan mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan masalah.

5. Bersikap Netral dan Menolak Politisasi

Pesantren tidak boleh menjadi alat kepentingan politik praktis. Netralitas adalah kunci agar pesantren tetap dipercaya sebagai penuntun moral. Politik boleh dipelajari sebagai ilmu, tetapi jangan menjadikan agama sebagai alat kepentingan kelompok tertentu.

6. Doa dan Kepedulian Sosial

Di saat bangsa menghadapi krisis, doa adalah senjata orang beriman, doa adalah kekuatan spiritual. Pesantren bisa mengadakan istighotsah, doa bersama, dan penggalangan bantuan untuk korban terdampak.

7. Memperkuat Ukhuwah dan Persaudaraan

Perbedaan pandangan politik jangan sampai memecah ukhuwah Islamiyah. Santri harus menjadi perekat persaudaraan, bukan pemicu perpecahan.

Krisis boleh datang silih berganti, tetapi peran pesantren sebagai penjaga moral bangsa harus tetap kokoh. Di tengah gelombang fitnah dan konflik, pesantren harus berdiri sebagai mercusuar kedamaian, bukan bagian dari masalah.

Dengan menjaga ketenangan, memperbanyak doa, dan mengedepankan nilai persatuan, pesantren dapat menjadi benteng terakhir moral bangsa. (SN)

Penulis: Gus Damas Alhasy, SS.

Related posts