Editor's PicksKaderisasi

Kader NU OKU Timur Konsolidasi, Siap Bangkit Songsong 1 Abad NU

Hari ini, Ahad, 21 September 2025, simpul-simpul kader NU OKU Timur dari XII angkatan pengkaderan berkumpul di kediaman mantan Ketua PCNU OKU Timur, Drs. M. Syahri, di Tebat Jaya Buay Madang.

Pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi para kader, bukan sekadar temu kangen, melainkan konsolidasi strategis jelang dua agenda besar: Hari Santri Nasional 2025 dan 1 Abad Harlah NU pada 31 Januari 2026.

Hadir dalam konsolidasi tersebut sejumlah tokoh kunci di antaranya Kyai Asrori Mustamar, Koordinator Pengkaderan NU Sumatera Selatan; Kyai M. Syahri selaku tuan rumah; Gus Damas Alhasy, kader menengah NU sekaligus instruktur pengkaderan; Ketua angkatan kaderisasi; beberapa Ketua MWC NU; serta unsur PC dan PAC Muslimat NU.

Kehadiran lintas elemen ini menunjukkan bahwa semangat para kader NU masih terawat dan siap bergerak bersama.

Salah satu isu utama yang dibahas dalam forum ini adalah pentingnya kembali menggelar Temu Kader, baik di tingkat Kabupaten OKU Timur maupun Provinsi Sumatera Selatan untuk me-recharge semangat berharokah.

Dari XII angkatan pengkaderan yang pernah diselenggarakan, tercatat sudah ada sekitar 2.500 kader NU yang tersebar di seluruh wilayah OKU Timur. Mereka saat ini aktif di lembaga-lembaga NU maupun badan otonom (banom) NU. Potensi ini adalah kekuatan riil yang harus dirawat. Sebab, kader-kader inilah yang menjadi penggerak jamaah di akar rumput.

Tanpa gerakan kader, NU bisa kehilangan denyutnya di tengah masyarakat. Karena itu, konsolidasi ini menjadi ruang penyegaran semangat, agar sumpah baiat saat pengkaderan dulu terus terjaga: “Siap setia mengurusi NU.”

NU sebagai Rumah Besar Umat

KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, pernah menegaskan: “Barang siapa mau mengurusi NU, maka dia aku anggap sebagai santriku. Dan siapa yang menjadi santriku, aku do’akan husnul khotimah beserta anak cucunya”. Pesan ini kembali mengemuka dalam forum kader.

Bahwa berkhidmat di NU tidak harus menunggu surat keputusan (SK). Siapapun yang merasa bagian dari NU, apalagi sudah mengikuti pengkaderan PKPNU, wajib memberikan pengabdian dengan cara apapun dan bagaimanapun.

Kader NU juga dituntut menjaga eksistensinya di tengah derasnya arus paham keagamaan yang mencoba menggerus akidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Faham Wahabi dan Islam transnasional yang kerap menolak tradisi lokal harus dihadapi dengan dakwah Islam Nusantara — Islam yang tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan rahmatan lil ‘alamin.

Kesepakatan

Pertemuan hari ini menghasilkan beberapa kesepakatan penting. Salah satunya, Temu Kader Tingkat Kabupaten OKU Timur akan digelar usai peringatan Hari Santri, tepatnya pada 25 Oktober 2025, bertempat di Lapangan Kantor PCNU Buay Madang Timur.

Acara ini diharapkan menjadi ajang konsolidasi besar-besaran, sekaligus memperlihatkan potensi riil kaderisasi NU kepada masyarakat.

Lebih jauh, Kyai Asrori, yang memimpin pertemuan, menegaskan bahwa momen menuju 1 Abad NU harus dijadikan batu loncatan untuk kembali bangkit dan bergerak menjalankan tugas yang sudah diberikan, yaitu merawat NU dan amaliyah-amaliyahnya.

“NU bukan hanya organisasi keagamaan, tetapi juga benteng penjaga peradaban, penguat akar budaya lokal, sekaligus wadah perjuangan kader-kader muda hingga senior dalam menebarkan Islam yang ramah, bukan marah”. tegas Kyai Asrori.

Menatap Abad Kedua NU

Saat meberikan pengarahannya, Kyai Syahri, sebagai kader senior, menjelaskan bahwa kaderisasi NU di OKU Timur telah melahirkan ribuan alumni. Kini saatnya kembali untuk bertemu dalam spirit kebersamaan.

“Temu kader dan konsolidasi akan menjadi modal penting bagi kita kader-kader NU untuk memasuki abad kedua NU. Sebab, NU hanya akan tetap kuat jika kader-kadernya konsisten berkhidmat dan jamaah di akar rumput tetap merasa memiliki”. jelas Kyai Syahri.

Hari ini, teriakan semangat para kader NU kembali menggema, sama seperti teriakan mereka saat mengikuti pengkaderan. Kader NU bukan sekadar pengurus organisasi, tetapi juga penggerak masyarakat, penguat tradisi, dan penjaga warisan ulama.

Dengan semangat konsolidasi, kader NU di OKU Timur siap melangkah menuju abad kedua dengan tekad yang lebih kokoh: “Ngurusi NU, berarti ngurusi umat dan bangsa.” (SN/GD)

Related posts