Di Indonesia ini, orang tua cenderung menilai keberhasilan pendidikan anaknya dari satu ukuran: anaknya bisa mendapatkan pekerjaan apa setelah tamat sekolah?.
Pertanyaan seperti “Kamu kerja di mana?” atau “Gajimu berapa?” lebih sering terdengar ketimbang “Apa karya atau kontribusimu untuk masyarakat?”
Inilah sebenarnya akar masalah mentalitas pendidikan kita: seseorang sekolah orientasinya untuk mencari pekerjaan, bukan menjadi pencipta.
Padahal sejatinya, sekolah atau pendidikan bukanlah pabrik tenaga kerja, melainkan tempat menempa manusia untuk berilmu dan beradab. Maka, lembaga sekolah seharusnya tidak sekadar menghasilkan pelamar kerja, tetapi melahirkan generasi pembangun peradaban, yaitu generasi yang berpikir, mencipta, dan memberi solusi bagi tantangan zaman.
Pendidikan yang Tersandera oleh Ijazah
Masyarakat memandang sekolah sebagai jalur untuk menuju pekerjaan. Ijazah diperlakukan seperti tiket masuk ke dunia kerja, bukan sebagai bukti kompetensi dan karakter.
Akibatnya, lembaga sekolah berlomba-lomba mempercantik angka kelulusan dan akreditasi, dan mengabaikan kualitas adab, kreativitas, dan jiwa kemandirian siswa.
Fenomena ini bisa dibuktikan ketika masyarakat memilih sekolah untuk anaknya. Yang ditanyakan bukan “Bagaimana sistem pembelajaran dan pendidikan karakternya?” tetapi “Ijazahnya bisa dipakai untuk melamar kerja dimana atau kemana?”
Paradigma inilah yang mengekang potensi besar anak-anak bangsa. Mereka tumbuh dengan pola pikir bahwa sekolah adalah sarana mencari kerja, bukan mencari ilmu.
Dampak Mentalitas “Pekerja”
Ketika sebagian besar masyarakat berpikir sekolah untuk menjadi pekerja, bukan pencipta, bangsa ini kehilangan salah satu sumber daya paling berharga, yaitu imajinasi kolektif untuk membangun peradaban.
Jika semua ingin menjadi pegawai, siapa yang menciptakan lapangan kerja?
Jika semua ingin menjadi pengguna, siapa yang menciptakan produk dan teknologi?
Jika semua ingin menjadi penonton, siapa yang tampil di panggung dunia?
Inilah yang perlahan menjadi bom waktu bagi kemandirian bangsa. Banyak industri besar di negeri ini dikuasai oleh asing karena kita lebih nyaman menjadi pekerja, pengguna dan konsumen. Kita kagum pada merek luar, padahal kemampuan mencipta itu sebenarnya ada dalam diri anak-anak kita, jika pola didiknya benar.
Dalam khazanah Islam klasik, para ulama dahulu tidak pernah belajar untuk “bekerja pada orang lain.” Mereka belajar untuk memahami kehidupan dan memperbaikinya.
Al-Ghazali, Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan banyak ilmuwan Muslim lainnya belajar bukan untuk mencari pekerjaan, tetapi untuk mencari kebenaran dan kebermanfaatan. Dari sinilah lahir ilmu, teknologi, dan nilai-nilai peradaban yang memajukan dunia.
Pendidikan yang sejati harus menanamkan semangat berpikir kritis, berakhlak mulia, dan mandiri secara intelektual. Anak-anak harus dididik agar memiliki kecakapan hidup (life skills), bukan sekadar mencari nilai ujian. Mereka harus dididik untuk mencipta, meneliti, menalar, berwirausaha, berorganisasi, dan berkontribusi di tengah masyarakat.
Pendidikan harus menumbuhkan jiwa kepemimpinan, kemandirian dan pembaharu, bukan mental ketergantungan. Sebab peradaban besar tidak pernah lahir dari bangsa yang hanya menunggu perintah, melainkan dari bangsa yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Mengubah Pola Pikir
Sudah saatnya para orang tua, pendidik, dan pengambil kebijakan berani menggeser orientasi pendidikan dari “mencetak pekerja” menjadi “melahirkan pencipta”; dari “Cari Kerja” ke “Cipta Karya”.
Perubahan besar selalu dimulai dari perubahan cara berpikir. Kita harus membiasakan anak-anak bertanya “Apa yang bisa saya buat?” bukan “Saya akan kerja dimana?”
Kita perlu mengajarkan mereka bahwa kegagalan dalam belajar atau dalam hidup adalah bagian dari proses kreatif, bukan aib. Belajar bukan sekadar untuk mengejar nilai ijazah, tapi untuk mengasah nalar dan membentuk karakter.
Jika setiap sekolah di Indonesia menumbuhkan semangat wirausaha, kreativitas, dan penelitian ilmiah, maka negeri ini tidak akan lagi bergantung pada produk luar negeri. Kita akan punya banyak ilmuwan yang mencipta teknologi, pengusaha yang membuka lapangan kerja, guru yang melahirkan pemikir, dan santri yang membangun peradaban dengan ilmu dan akhlaknya.
Sekolah untuk Mencipta Peradaban
Negeri ini tidak butuh lebih banyak pelamar kerja, tetapi butuh lebih banyak pencipta lapangan kerja; tidak butuh lebih banyak pengguna teknologi, tetapi butuh pencipta teknologi; tidak butuh lebih banyak pengikut arus, tetapi butuh pemimpin arus perubahan.
Pendidikan adalah investasi terbesar bangsa. Namun investasi itu akan sia-sia bila hanya menghasilkan ijazah tanpa ilmu, dan pekerja tanpa visi.
Saatnya generasi muda disadarkan bahwa sekolah bukan untuk mencari pekerjaan, melainkan untuk membangun peradaban agar mereka terbiasa berpikir, berkarya, dan berani mencipta. (SN)
Oleh: Gus Damas Alhasy, SS
