Nahdlatul Ulama tidak lahir dari ambisi kekuasaan, apalagi dari kalkulasi materi. NU dilahirkan dari keprihatinan para ulama atas masa depan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dan masa depan bangsa yang sedang dijajah, tercerai-berai, dan kehilangan arah.
Jam’iyyah ini didirikan sebagai wadah konsolidasi ulama dan umat, untuk menjaga agama, menjaga tradisi, dan menjaga tanah air, bahkan hingga titik darah terakhir.
Para muassis NU, dengan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai poros utamanya, bersama ulama-ulama besar seperti KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. Mas Alwi Abdul Aziz, KH. Abdul Halim dan para kiai pesantren lain yang sanad keilmuannya muttashil hingga Rasulullah ﷺ, mendirikan NU bukan untuk jabatan, bukan untuk kekayaan, dan bukan untuk karier politik. NU lahir dari tirakat, keikhlasan, dan pengorbanan.
Namun apa yang kami saksikan hari ini sungguh menyayat nurani.
NU Terdegradasi oleh Materi
NU hari ini, dengan jumlah jamaah yang mencapai lebih dari separuh penduduk Indonesia, justru menghadapi krisis paling mendasar: krisis jati diri.
Prinsip dan ruh NU mulai menjauh dari cita-cita para muassis. Apalagi pada dekade terakhir, NU kian tampak seperti organisasi massa pada umumnya, bahkan lebih menyerupai partai politik, tempat transaksi kepentingan berlangsung secara vulgar.
Fakta pahit yang tak bisa dibantah: dalam banyak forum struktural (Muktamar, Muskerwil, Muskercab) uang telah menjadi senjata utama. Siapa pun dia, betapapun alim, cerdas, berilmu, dan berkhidmah; jika tidak punya modal finansial atau tidak sanggup “menyiapkan amplop”, maka peluang memimpin nyaris tertutup. Jabatan Ketua, dari PBNU hingga PCNU, secara vulgar terkondisikan dan tersistemkan hanya untuk mereka yang punya uang atau akses modal.
SK-SK pengurus wilayah dan pengurus cabang pun menjadi ajang transaksional. Sungguh miris, untuk menjalankan tugas mengurusi NU, nahdliyin harus mengemis SK.
Inilah ironi besar NU hari ini: keilmuan kalah oleh kapital, akhlak kalah oleh logistik, khidmah kalah oleh transaksi.
NU yang dahulu dijaga dengan doa dan sanad, kini diperebutkan dengan proposal, sponsor dan amplop.
NU sekedar Jembatan Karir dan Kekuasaan
Lebih menyedihkan lagi, NU hari ini sering dijadikan jembatan karier politik, panggung legitimasi sosial, atau kendaraan agar seseorang “laku” di hadapan masyarakat dan pemerintah. Tak sedikit yang masuk NU bukan karena paham manhaj Aswaja, bukan karena cinta jam’iyyah, melainkan karena NU dianggap strategis dan menguntungkan.
Akibatnya, NU menjadi ruang terbuka tanpa filter ideologis. Siapa pun bisa dan boleh masuk, siapa pun boleh mengatur, asal punya modal. Bahkan, orang yang tidak pernah tumbuh dalam kultur pesantren NU, tidak paham tradisi ta’dhim, tidak hidup dalam etika sanad dan adab ulama, bisa duduk di posisi strategis.
Ketika kepentingan ekonomi, termasuk isu pengelolaan sumber daya seperti tambang, masuk ke tubuh NU, konflik pun menjadi keniscayaan.
Maka sungguh naif jika konflik PBNU hari ini hanya dibaca sebagai soal pelanggaran AD/ART. AD/ART hanyalah bungkus luar. Yang sesungguhnya terjadi adalah tarik-menarik kepentingan ekonomi dan politik, antara mereka yang setuju dan mereka yang menantang arah pengelolaan sumber daya NU.
Retaknya Marwah Ulama dan Hilangnya Adab
Yang paling menyakitkan bagi kami, generasi muda Nahdliyin, bukan semata konflik struktural tetapi cara konflik itu dipertontonkan.
Kami dididik untuk:
- tawadhu’,
- ta’dhim kepada kiai,
- sami’na wa atha’na terhadap dawuh ulama,
- andap asor dalam bersikap.
Kami diajarkan bahwa perbedaan harus diselesaikan dengan musyawarah, tabayyun, dan adab. Tetapi yang kami saksikan hari ini justru sebaliknya: kiai bertengkar secara terbuka, elit NU saling membully, mencaci, dan menghujat, bahkan melalui media dan buzzer.
Kami pun bertanya dengan getir:
- Di mana tawadhu’ itu?
- Di mana ta’dhim itu?
- Di mana marwah ulama dan kiai yang dulu kami muliakan?
Setiap kubu merasa paling benar. Prinsip tawassuth, tawazun, dan tabayyun menguap begitu saja. NU yang dulu menjadi peneduh umat, kini justru menjadi tontonan konflik yang melelahkan.
Tangisan Generasi Nahdliyin
Para muassis NU, jika hari ini menyaksikan kondisi jam’iyyah yang mereka dirikan, niscaya akan menangis. Dan kami, generasi muda Nahdliyin, juga ikut menangis.
Bukan karena kami membenci NU, justru karena terlalu mencintainya. Kami tidak ingin NU runtuh oleh infiltrasi ideologi asing, tetapi lebih takut NU hancur oleh kerakusan internalnya sendiri.
Jika orang luar ingin menghancurkan NU hari ini, mereka tidak perlu repot menyusupkan ajaran apa pun. Cukup lemparkan uang, maka elit-elitnya akan saling berebut dan saling mencakar.
Sekali lagi, NU tidak akan selamat dengan tambang, jabatan, atau proyek. NU hanya akan selamat jika kembali pada ruh muassis: keikhlasan, adab, sanad keilmuan, dan khidmah tanpa pamrih.
Jika NU terus berjalan menjauh dari nilai-nilai itu, maka yang tersisa hanyalah nama besar tanpa ruh, kerangka jam’iyyah tanpa jiwa. Dan sejarah akan mencatat, bukan bagaimana NU dibesarkan oleh jumlah jamaahnya, tetapi bagaimana NU dilukai oleh elit-elitnya sendiri.
Semoga masih ada keberanian untuk berhenti, bercermin, dan kembali sebelum NU benar-benar kehilangan dirinya. (Gus Damas Alhasy/SN)
