Aspirasi SantriEditor's PicksKail (Kajian Ilmu)Tanya Ustadz

Paradoks Di Tengah Isu Nasab Baalawi: Mengikuti Islam Berbasis Ilmu atau Berbasis Kultus

Mengapa Umat Diseret oleh Dua Arus Kebenaran yang Bertentangan.

Dalam dua tahun terakhir, umat Islam Indonesia disuguhi sebuah ironi besar: ketika ilmu pengetahuan membuka tabir baru, banyak tokoh agama malah menutup mata. Ketika bukti-bukti sejarah, manuskrip, dan genetika digelar jelas di hadapan publik, sebagian kalangan justru memilih mengulang narasi lama tanpa pernah mengujinya kembali.

Dan di tengah semua ini, umat dibiarkan terombang-ambing, antara ketaklidan pada tradisi dan tuntutan kejujuran intelektual.

Fenomena ini bukan sekadar soal nasab Ba‘Alawi. Bukan sekadar mendebat siapa cucu siapa. Ini adalah panggung besar sebuah paradoks sosial-keagamaan: paradoks antara otoritas ilmu dan otoritas nasab, antara keberanian berpikir dan kenyamanan ikut-ikutan, antara argumentasi ilmiah dan budaya taklid.

Dan yang paling menyedihkan, paradoks ini muncul justru di lingkungan yang kita yakini sebagai benteng ilmu: pesantren.

Paradoks Pertama: Ketika Para Ahli Ilmu Tak Mau Mengikuti Ilmu

Riset KH Imaduddin Utsman al-Bantany, yang juga didukung para kyai pesantren, para ahli dan akademisi lintas bidang, menghadirkan analisis sejarah, filologi, manuskrip kuno, dan data genetik (DNA) yang menunjukkan ketidaksambungan nasab Ba‘Alawi dengan Rasulullah SAW.

Metodenya ilmiah, datanya terbuka, dapat diuji, dan dapat diseminarkan.

Namun ironisnya, banyak kyai tetap berpegang atau taklid pada pendapat lama yang diwariskan secara lisan (tanpa mau mereview ulang), bukan hasil penelitian tertulis. Alasannya sederhana: “Sejak dulu kyai-kyai kami mengakui Ba‘Alawi sebagai dzurriyat Nabi.”

Inilah paradoks besar:

Pesantren adalah rumah ilmu, tetapi dalam isu ini banyak kyai lebih memilih tradisi tutur lisan daripada penelitian ilmiah.

Suatu ironi bagi lembaga yang selalu mengajarkan “ikhfadzhu ma qila wa la takun haddatsani”, kini justru menjadikan “katanya-kyai” sebagai landasan kebenaran.

Paradoks Kedua: Sami‘na wa Atha‘na Dipakai untuk Menghentikan Kekritisan

Budaya ta’dhim kepada kyai adalah bagian dari tradisi pesantren. Ia indah, ia beradab, ia menjadi jembatan keberkahan.

Tetapi dalam polemik nasab ini, budaya itu berubah menjadi alat untuk menutup ruang diskusi.

Santri yang hendak mengkritisi data disodori stigma: “Berani membantah kyai sama saja tidak beradab atau su’ul adab.”

Akibatnya:

  • yang ingin bertanya memilih diam,
  • yang ingin menguji data dituduh lancang,
  • yang berpikir kritis disebut mengikuti hawa nafsu.

Paradoksnya jelas:

Pesantren mengajarkan berpikir, tetapi ketika berpikir menyentuh wilayah sensitif, maka berpikir adalah pemberontakan.

Sebuah ironi yang membuat banyak santri terkungkung dalam paradoks loyalitas dilematis: “Ikut kyai atau ikut ilmu?”

Paradoks Ketiga: Kebenaran Ilmiah Ditolak Demi Harmoni Sosial

Sebagian kyai menolak mempertimbangkan penelitian KH Imaduddin bukan karena datanya lemah, melainkan karena alasan sosial:

  • hubungan kekerabatan dengan habaib,
  • stabilitas lembaga atau organisasi,
  • takut memicu polemik di tengah umat.

Dengan kata lain: kebenaran dikalahkan oleh situasi sosial.

Ini paradoks yang lebih dalam:

Ilmu ditolak bukan karena salah, tapi karena tidak membuatnya nyaman.

Seakan kebenaran harus menunggu restu dari pertimbangan politik seseorang atau keluarga.

Paradoks Keempat: Otoritas Nasab Mengalahkan Otoritas Ilmu

Di satu sisi, umat diajarkan bahwa kemuliaan seseorang ditentukan oleh:

  • akhlak,
  • ilmu,
  • amal saleh,
  • taqwa.

Namun di sisi lain, sebagian masyarakat digiring atau masih menempatkan klaim keturunan (nasab) sebagai wilayah yang tidak boleh disentuh.

Paradoksnya:

Ilmu yang puluhan tahun ditimba seorang kyai bisa kalah oleh klaim garis darah yang bahkan tidak dianalisis atau diverifikasi ulang.

Ketika ada habib yang ilmunya jauh di bawah para kyai, namun dihormati secara berlebihan hanya karena nasab, kita sedang menyaksikan kejanggalan dalam hierarki sosial agama. Ajaran Islam pun tidak mengenal kasta sosial.

Kultus keturunan telah menggeser prinsip objektif: ilmu.

Paradoks Kelima: Dakwah Tauhid Dikalahkan oleh Kultus 

Ajaran Islam menekankan tauhid, menyandarkan segala urusan hanya kepada Allah SWT, bukan kepada yang lain.

Namun dalam praktiknya, hampir semua penceramah dari kalangan habaib membangun narasi atau indoktrinasi:

  • bahwa darah mereka membawa keberkahan otomatis,
  • bahwa mereka adalah jalan keselamatan,
  • bahwa yang tidak percaya mereka dianggap menyimpang, bahkan kafir.

Di sini paradoks itu terlihat telanjang:

Di satu sisi umat diajari tauhid, di sisi lain sebagian diarahkan untuk percaya pada figur habaib sebagai pintu surga.

Ini menciptakan pertentangan konsep yang tidak lagi bersifat akademik, tetapi menyentuh inti ajaran Islam: ketauhidan.

Paradoks Keenam: Ketika Keilmuan Pesantren Menjadi Penonton

Yang paling menyedihkan dalam polemik ini adalah kenyataan bahwa:

  • Pesantren dengan ribuan santri
  • Kyai dengan sanad keilmuan panjang
  • Ahli kitab yang menguasai fiqih, ushul, hadits, hingga manhaj sanad

justru diam melihat kerancuan sosial yang tumbuh dan berkembang di depan mata mereka saat ini

Mereka memilih diam:

  • demi menjaga hubungan kekerabatan,
  • demi menghindari ketidakenakan sosial
  • demi menghindari risiko konflik.

Padahal pesantren selalu mengajarkan:
“Qulil haqqa walau kana murran.”
Katakanlah kebenaran itu benar walau pahit.

Kini perintah itu justru menjadi paradoks:

Kebenaran tetap pahit, tapi bukan lagi karena beratnya mengatakan, melainkan karena takut melukai hubungan sosial atau kekeluargaan yang sudah terlanjur terjalin, misalnya dengan perkawinan.

Paradoks-paradoks Ini Adalah Alarm bagi Umat

Polemik nasab Ba‘Alawi membuka tabir yang lebih besar: bahwa umat masih mudah digiring oleh simbol, bukan substansi; oleh garis keturunan, bukan ilmu; oleh kenyamanan psikologis, bukan keberanian intelektual.

Kita sedang menyaksikan benturan antara dua model Islam:

  1. Islam yang berbasis ilmu, argumentasi, data, dan kajian, seperti yang diajarkan Rasulullah SAW,
  2. Islam yang berbasis simbol identitas, kultus, nasab dan tradisi taklid.

Dan selama paradoks ini tidak diselesaikan oleh para pemegang otoritas, umat akan terus hidup dalam konflik diam (api dalam sekam: antara yang dilihat dan yang diyakini,
antara yang diketahui dan yang ditakuti,
antara kebenaran dan kenyamanan.

Tugas kyai, ulama dan umat ke depan bukan memilih pihak, tetapi memilih kejujuran berbasis ilmu dalam beragama: bahwa kebenaran harus berdiri di atas ilmu, bukan identitas atau nasab; bahwa penghormatan tidak boleh mengalahkan akal sehat; dan bahwa Islam terlalu agung untuk dikalahkan oleh klaim-klaim yang tidak diuji dan diverifikasi kesahihannya. (SN)

Oleh: Gus Damas Alhasy, SS.

Related posts