Editor's PicksInfo PesantrenKail (Kajian Ilmu)MasyayikhTanya Ustadz

Tambakberas, Muktamar, dan Panggilan Kembali ke Ruh Nahdlatul Ulama

Ketika Pengurus Besar Nahdlatul Ulama akhirnya menetapkan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU tahun 2026, banyak orang membacanya hanya sebagai keputusan teknis.

Alasannya sederhana: Tambakberas berpengalaman menjadi tuan rumah muktamar sebelumnya, memiliki infrastruktur yang memadai, serta dinilai siap melayani ribuan peserta.

Namun, bagi mereka yang memahami sejarah Nahdlatul Ulama, keputusan itu mengandung makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar soal lokasi. Ia adalah simbol. Ia adalah pesan sejarah. Bahkan bisa dibaca sebagai panggilan agar NU kembali menengok rumah kelahirannya sendiri.

Tambakberas bukan sekadar pesantren besar. Di sanalah jejak perjuangan KH Abdul Wahab Chasbullah masih hidup.

Beliau bukan hanya pendiri pesantren, tetapi juga salah satu penggagas utama berdirinya Nahdlatul Ulama tahun 1926.

NU, yang didirikan pada tahun 1926, lahir bukan dalam keadaan nyaman. Organisasi ini lahir ketika dunia Islam sedang mengalami guncangan besar. Kekhalifahan Utsmaniyah runtuh. Hijaz dikuasai Dinasti Saud. Banyak situs Islam bersejarah dan makam para sahabat diratakan. Jejak-jejak peradaban dan tradisi yang selama berabad-abad dihormati dan diamalkan umat Islam terancam hilang, dan lain-lain.

Dalam situasi itulah para ulama Nusantara membentuk Komite Hijaz dan kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama sebagai ikhtiar menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus mempertahankan martabat umat Islam.

Artinya, NU lahir bukan untuk memperebutkan kekuasaan. NU lahir untuk menyelamatkan nilai.

Hampir satu abad kemudian, menjelang Muktamar ke-35, NU kembali memasuki fase yang penuh dinamika.

Perbedaan pandangan di kalangan elite mencuat ke ruang publik. Saling mengkritik, saling mempertanyakan legitimasi, saling pecat memecat, saling menyandera. hingga digelar berbagai pertemuan yang menguras tenaga dan biaya menjadi bagian dari perjalanan menuju muktamar.

Semua itu menunjukkan bahwa organisasi besar tidak pernah lepas dari ujian.

Di titik inilah pemilihan Tambakberas menjadi terasa sangat simbolik.
Seolah sejarah sedang berkata kepada seluruh warga Nahdliyin: jika terjadi perbedaan, pulanglah ke pesantren. Jika ego mulai membesar, pulanglah kepada para kiai. Jika politik organisasi mulai mengalahkan kebijaksanaan, pulanglah kepada ruh yang melahirkan NU.

Tambakberas mengingatkan bahwa Nahdlatul Ulama dibangun di atas keikhlasan, musyawarah, ilmu, adab, dan pengabdian. Para pendirinya tidak membangun NU demi jabatan, melainkan demi menjaga agama, bangsa, dan kemaslahatan umat.

Karena itu, Muktamar ke-35 semestinya tidak hanya menghasilkan kepengurusan baru. Yang lebih penting adalah melahirkan semangat baru: memperkuat ukhuwah, merawat tradisi musyawarah, mengutamakan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Jika Muktamar di Tambakberas hanya menghasilkan pergantian pemimpin, sejarah mungkin akan mencatatnya sebagai agenda organisasi biasa. Tetapi jika dari Tambakberas lahir rekonsiliasi, keteladanan, dan tekad kembali kepada cita-cita para muassis, maka Muktamar ke-35 akan dikenang sebagai momentum ketika NU kembali menemukan ruhnya.

Barangkali itulah makna terdalam dipilihnya Tambakberas. Bukan sekadar kembali ke Jombang. Bukan sekadar kembali ke pesantren. Melainkan kembali kepada hati Nahdlatul Ulama. (NU)

Penulis: Gus Damas Alhasy, SS.

Related posts