Tidak ada rakyat yang memilih presiden agar uang mereka dijadikan bancakan oleh pejabat. Rakyat memilih pemimpin dengan harapan lahir pemerintahan yang bersih, berani, dan berpihak kepada kepentingan bangsa.
Ketika Presiden Prabowo Subianto memulai pemerintahannya, harapan itu sangat besar. Berbagai program strategis diluncurkan dengan janji meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Namun, program sebesar apa pun tidak akan berhasil jika birokrasi di bawahnya dipenuhi budaya mencari keuntungan pribadi.
Masalah terbesar bangsa ini bukan kekurangan anggaran. Bukan pula kekurangan program. Yang menjadi penyakit kronis adalah mentalitas para pejabat yang melihat jabatan sebagai kesempatan memperkaya diri.
Selama penyakit ini tidak disembuhkan, program sebesar dan sebagus apa pun terus berpotensi bocor sebelum manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Yang lebih berbahaya adalah ketika kritik rakyat dianggap sebagai gangguan politik. Padahal, suara masyarakat merupakan alarm paling awal ketika ada indikasi penyimpangan.
Jika setiap kritik dibalas dengan pembelaan tanpa evaluasi, pemerintah berisiko hidup dalam ruang gema, hanya mendengar pujian dan laporan yang menyenangkan telinga.
Budaya ABS (Asal Bapak Senang) adalah musuh setiap pemerintahan. Di atas meja, semua terlihat berhasil. Di layar presentasi, semuanya tampak sempurna. Di depan kamera, semua tersenyum. Tetapi kenyataan di lapangan sangat berbeda.
Pemimpin yang hebat bukanlah pemimpin yang selalu dipuji bawahannya. Pemimpin yang hebat adalah mereka yang bersedia mendengar kabar buruk, menerima laporan buruk, siap menerima kritik, dan segera memperbaiki kesalahan sebelum menjadi krisis.
Jika terbukti ada penyimpangan dalam program strategis negara, maka yang harus dilakukan bukan sekadar mencari kambing hitam. Presiden harus mengevaluasi sistem pengawasan, memperkuat audit independen, membuka akses pengawasan publik, dan memastikan setiap laporan masyarakat diproses secara serius.
Kepercayaan rakyat adalah modal terbesar pemerintahan. Kepercayaan itu dibangun dengan keterbukaan, kejujuran, dan tindakan nyata, bukan dengan laporan yang hanya menyenangkan atasan alias ABS (Asal Bapak Senang).
Sejarah akan mengingat seorang pemimpin bukan hanya pada program yang diluncurkan, tetapi juga keberaniannya membersihkan pemerintahannya dari penyimpangan. Di situlah kualitas kepemimpinan benar-benar diuji. (Gus Damas Alhasy/SN)
