Di panggung-panggung dakwah dan pengajian umat Islam Indonesia, kita sudah terbiasa menyaksikan figur-figur yang menyebut dirinya “habaib” begitu mendominasi ruang publik keagamaan.
Mereka hadir dengan atribut khas: jubah putih, sorban menjuntai, wajah serius atau penuh wibawa, serta gelar “habib” yang ditanamkan sebagai simbol kesucian; diarak para muhibbin dengan kereta kencana atau delman berhias disertai payung untuk melindungi mereka dari gerimis atau terik matahari.
Bagi banyak umat, kehadiran mereka seolah membawa keberkahan. Mereka dielu-elukan, dicium tangannya, bahkan dipuja seolah-olah lebih tinggi derajatnya dari ulama-ulama pribumi yang puluhan tahun mengabdi dalam dunia pesantren.
Fenomena ini menarik sekaligus memprihatinkan dan harus segera dihentikan karena fenomena ini bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Ia adalah proses panjang yang penuh rekayasa sejarah, manipulasi teks agama, serta strategi politik yang rapi.
Kultus Nasab dan Dalil Palsu
Salah satu “senjata utama” yang digunakan para habaib adalah klaim nasab keturunan Nabi Muhammad ﷺ. Klaim ini dipertegas dengan dalil-dalil yang seringkali lemah, bahkan palsu.
Dalam ceramah, mereka kerap menyitir hadits tanpa sanad yang jelas, seperti janji keselamatan otomatis bagi siapa pun yang mencintai habaib, atau jaminan bahwa siapa saja yang dekat dengan mereka akan masuk syurga.
Lebih parah lagi, isi-isi ceramah mereka justru menurunkan kehormatan Rasulullah ﷺ. Ada habib yang mengatakan Nabi Muhammad belajar ilmu nahwu sharaf pada datuk mereka. Ada pula yang berani mengklaim bisa mi‘raj 70 kali dalam sehari, padahal Rasulullah hanya sekali seumur hidup. Ada juga yang mengatakan mereka mampu menghardik malaikat Munkar Nakir atau bahkan memadamkan api neraka. Semua ini jelas jauh dari ajaran Islam dan sangat berbahaya bagi akidah umat.
Padahal, Islam dengan tegas menolak kultus darah dan keturunan. Allah berfirman:
﴿إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ﴾
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Ḥujurāt: 13)
Ayat ini jelas menegaskan bahwa kemuliaan tidak diwariskan oleh nasab, melainkan diperjuangkan dengan taqwa.
Habib Luthfi dan Kultus Palsu
Di antara tokoh habaib yang paling diagungkan adalah Habib Luthfi bin Yahya. Ia dijuluki “tokoh sufi dunia” dan dipromosikan sebagai wali besar Nusantara. Akan tetapi, banyak catatan kontroversial membayanginya.
Beberapa kali ia disebut tidak melaksanakan salat Jumat dengan berbagai alasan yang sulit diterima. Lebih dari itu, ketika ia menyitir ayat Al-Qur’an atau hadits Nabi, sering terjadi kesalahan dalam bacaan maupun pemaknaan. Habib Luthfi juga diindikasikan sebagai tokoh yang berada dibalik pemalsuan ribuan makam ulama, raja dan kyai-kyai pribumi.
Anehnya, pengikutnya menutup mata, seolah seorang habib tidak mungkin salah. Kultus pribadi ini memperlihatkan betapa jauhnya umat dari sikap kritis.
Fenomena lain yang unik adalah munculnya “habib gila” di tengah masyarakat. Daripada dianggap aib, para habaib justru memberinya label “wali majdzub”, yakni wali Allah yang ditarik kesadarannya.
Dengan label itu, semua perilaku aneh, bahkan yang jelas tidak Islami, dianggap sebagai tanda kewalian. Praktik ini jelas sebuah strategi untuk menjaga aura kesakralan nasab, sekalipun kenyataan berbicara sebaliknya.
Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa keturunannya tidak akan selamat jika tidak beramal shalih.
﴿يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ اعْمَلِي فَإِنِّي لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا﴾
“Wahai Fāṭimah binti Muḥammad, beramallah, karena aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari (adzab) Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini adalah tamparan keras bagi mereka yang merasa cukup dengan modal nasab keturunan.
Klaim kesucian nasab semakin rapuh bila kita menengok sejarah global. Tidak sedikit dari marga besar Ba‘alawi—seperti Assegaf, Alhaddad, hingga Asshumaith—yang justru murtad dan menjadi pendeta Kristen di berbagai negara. Di Cikupa Tangerang ada Thomas Riwu Assegaf yang menjadi pendeta kristen.
Fenomena ini membuktikan bahwa klaim nasab kaum Baalwi sebagai keturunan Nabi semakin rusak.
Pemalsuan Makam dan Pembelokan Sejarah
Fenomena pemalsuan makam juga tidak bisa diabaikan. Banyak makam tua ulama dan kyai nusantara tiba-tiba diberi label sebagai makam habib atau wali dari Hadramaut, padahal tidak ada bukti sejarah yang sahih.
Di sekitar makam waliyullah, di ring satu secara mengagetkan terdapat puluhan nisan yang bertuliskan nama-nama habaib klan Baalwi. Padahal makam-makam waliyullah ini sudah berumur ratusan tahun, sementara klan Baalwi muncul di tahun 1880 an.
Yang lebih mengherankan, pengelolaan komplek-komplek makam waliyullah itu berhasil mereka kuasai, entah bagaimana caranya. Ini bukti bahwa mereka tanpa kita sadari, karena kita selama ini lengah, berhasil memperdaya para juru kunci makam-makam waliyullah.
Pembangunan makam-makam palsu tersebut sengaja mereka lakukan untuk menumbuhkan industri ziarah yang sarat dengan kepentingan pengumpulan massa dan ekonomi (uang) yang harus disetorkan kepada mereka.
Untuk jangka panjang, disinyalir bahwa pemalsuan makam tersebut adalah strategi kaln Baalwi untuk menunjukkan bukti sejarah bahwa datuk-datuk merekalah yang dulu membuka wilayah tersebut.
Selain itu, narasi sejarah NU dan NKRI pun dibelokkan. Habaib berusaha ditampilkan seolah sebagai pendiri utama NU dan penentu arah perjuangan bangsa. Padahal, fakta sejarah menunjukkan NU lahir dari rahim ulama pesantren Nusantara, bukan dari keluarga habaib. Klaim semacam ini adalah bentuk pembajakan sejarah untuk memperkuat legitimasi.
JATMA: Replikasi Palsu JATMAN
Upaya paling mutakhir adalah pembentukan JATMA (Jam‘iyyah Ahlith Thariqah al-Mu‘tabarah Aswaja). Organisasi ini jelas-jelas replika dari JATMAN (Jam‘iyyah Ahlith Thariqah al-Mu‘tabarah an-Nahdliyah) yang sah di bawah NU. Tujuannya adalah merebut jamaah tarekat dari tangan ulama-ulama pribumi dan menempatkannya di bawah dominasi habaib.
Strategi ini bukan hanya soal organisasi, melainkan soal hegemoni spiritual dan politik. Jika jamaah tarekat NU yang jumlahnya jutaan berhasil mereka kuasai, maka mereka akan menguasai sumber daya sosial-politik yang sangat besar.
Fenomena habaib di Indonesia hari ini bukan sekadar tradisi atau budaya. Ia adalah proyek besar yang melibatkan manipulasi dalil, rekayasa sejarah, serta agenda politik jangka panjang. Dari kultus pribadi hingga pembentukan organisasi tandingan, semua diarahkan untuk mengokohkan dominasi mereka atas umat.
Sebagai Muslim, kita wajib segera sadar dan menggunakan akal sehat agar tidak lagi dikuasai oleh doktrin cucu palsu Nabi yang ternyata sangat menyesatkan. Kita wajib kembali kepada Al-Qur’an, hadits sahih, dan tradisi ulama Nusantara yang murni yang terbukti jauh lebih shalih dan alim dalam ilmunya.
Kemuliaan tidak diwariskan oleh darah, tetapi diperjuangkan dengan iman, ilmu, dan amal saleh. Bila umat terus lengah, bukan tidak mungkin panggung Islam Indonesia akan terus dikuasai oleh narasi palsu yang menyesatkan, sementara ulama sejati alim allamah dari rahim pesantren justru tersisihkan oleh habaib yang ilmunya tidak jelas. (SN)
