Dalam sebuah langkah yang mengejutkan, Presiden Prabowo Subianto menunjuk Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati—sosok yang telah lama menjadi panutan fiskal di Indonesia.
Penggantian ini memicu gejolak pasar: terjadinya penurunan IHSG hingga 1,3–1,8%, pelemahan rupiah sekitar 1%, serta melemahnya obligasi internasional. Keputusan reshuffle yang serba mendadak — Sri Mulyani disebut bahkan hanya menerima kabar pemecatannya satu jam sebelumnya — semakin menambah kegaduhan.
1. Respons Blunder terhadap Tuntutan 17+8
Tak sampai 24 jam memasuki jabatan, Purbaya memicu gelombang kritik atas pernyataannya mengenai tuntutan “17+8” — yang dikampanyekan oleh tokoh dan influencer sebagai suara rakyat. Ia menyebut tuntutan tersebut sebagai “suara sebagian kecil rakyat” — sebuah komentar yang dianggap meremehkan aspirasi masyarakat.
Lebih kontroversial lagi, ia menyatakan bahwa dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 6–7%, rakyat akan lebih sibuk makan enak dan mencari kerja ketimbang turun ke jalan:
“…masyarakat akan lebih sibuk mencari kerja dan makan enak dibandingkan mendemo.” ucapnya saat diwawanca media.
Komentar ini menuai kritik keras, hingga Purbaya terpaksa menyampaikan permintaan maaf saat serah terima jabatan dengan Sri Mulyani.
2. Unggahan sinis Anaknya di Media Sosial
Seakan menambah panas suasana, akun yang diduga milik anak Purbaya, Yudo Sadewa, membuat unggahan kontroversial:
“Alhamdulillah, ayahku melengserkan agen CIA Amerika yang menyamar jadi menteri.” cuitnya di medsos.
Unggahan ini dianggap melewati batas profesional dan memicu reaksi negatif media maupun publik, karena menyiratkan teori konspirasi terselubung dan menyudutkan pendahulunya.
3. Tuduhan Dekat dengan Elite Politik
Ada pula isu mengenai kedekatannya dengan tokoh Golkar, Luhut Binsar Panjaitan. Media menyebut Purbaya sebagai sosok yang dekat dengan elite tersebut, menimbulkan spekulasi bahwa penunjukannya bukan semata berdasarkan kompetensi, melainkan juga kedekatan politik.
Sebelum pengangkatannya, publik mengenal Purbaya sebagai ekonom teknokrat yang pernah memimpin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sejak 2020 — dengan rekam jejak yang solid dalam menjaga stabilitas perbankan selama pandemi. Latar akademiknya juga impresif: lulusan Teknik Elektro ITB dengan gelar MSc dan PhD Ekonomi dari Purdue University.
Di lain pihak, Sri Mulyani telah dipandang sebagai simbol disiplin fiskal. Ia tersohor karena mampu menjaga defisit tetap di bawah 3% dan mendapat kepercayaan investor global selama krisis ekonomi bertubi-tubi. Dengan beban warisan itu, pasar merespons penunjukan Purbaya dengan skeptis: kekhawatiran bahwa kebijakan fiskal bisa longgar di bawah program ambisius seperti subsidi makan siswa senilai milyaran dolar.
Purbaya sendiri menegaskan optimisme tinggi: menargetkan pertumbuhan ekonomi 8% dalam jangka panjang, bahkan menyebutnya “tidak mustahil”.
Potensi dan Risiko Menkeu Baru
Penunjukan Purbaya Yudhi Sadewa bukan sekadar pergantian sosok, melainkan indikasi pergeseran gaya pemerintahan Prabowo: dari konservatif ke pro-growth. Namun berbagai kontroversi yang muncul di awal menjabat—dari pernyataan yang dianggap enteng, unggahan anak yang sinis, hingga isu kedekatan politik telah mengikis citra teknokratiknya.
Jejak awal yang kontroversial ini bisa jadi menjadikan tugasnya jauh lebih sulit dibanding Menkeu sebelumnya — bukan hanya soal angka ekonomi, melainkan soal menjaga legitimasi dan citra di mata rakyat dan masyarakat global. (SN)
Penulis: Gus Damas Alhasy, SS.
