Kronika

Pentingnya Masyarakat Belajar tentang Kehidupan di Pesantren

Derasnya gelombang kecaman dari berbagai elemen umat Islam terhadap Trans7 menjadi peringatan keras bahwa masyarakat Indonesia tidak akan tinggal diam ketika simbol-simbol keagamaan dilecehkan secara vulgar.

Tayangan Xposed Uncensored yang menampilkan narasi merendahkan kiai, santri, dan pesantren telah menimbulkan luka sosial dan moral yang dalam — bukan hanya bagi kalangan pesantren, tetapi juga bagi seluruh umat Islam yang menghormati nilai adab dan tradisi keilmuan.

Program tersebut, dengan nada sinis dan satir, menggambarkan relasi antara kiai dan santri seolah hubungan feodal antara “tuan dan jongos”. Tak berhenti di situ, tayangan tersebut juga menarasikan seakan para kiai hidup bermewah-mewah dari amplop santri — tuduhan yang tak hanya keliru, tetapi juga keji dan penuh bias.

Inilah sebabnya sejumlah ormas Islam besar seperti MUI, FORPESS, PWNU, RMI, LDNU, JATMAN, HIMASAL, dan FMPP bergerak cepat menyampaikan pernyataan sikap ke Polda Sumatera Selatan. Mereka menuntut tanggung jawab hukum dan moral dari pihak Trans7 serta menegaskan bahwa penghinaan terhadap pesantren adalah penghinaan terhadap akar kebudayaan bangsa.

Pesantren Bukan Ruang Gelap, Tapi Cermin Peradaban

Masalah muncul bukan semata karena tayangan yang tidak etis, melainkan pada cara pandang yang salah terhadap dunia pesantren. Banyak orang — termasuk sebagian pekerja media — melihat pesantren hanya dari permukaan: kehidupan sederhana, aktivitas ritual, dan pola interaksi yang mungkin tampak “aneh” bagi orang luar.

Padahal, pesantren adalah laboratorium pendidikan moral paling tua di Indonesia, jauh sebelum sistem sekolah modern berdiri, bahkan sebelum negara ini diproklamirkan. Sejak abad ke-18, pesantren telah melahirkan generasi ulama, pejuang, dan negarawan yang berperan penting dalam kemerdekaan dan pembangunan bangsa.

Kehidupan di pesantren diatur dalam sistem nilai yang kompleks: ta’dhīm (penghormatan), tawadhu’ (kerendahan hati), barakah (keberkahan ilmu), dan ukhuwah (persaudaraan). Semua perilaku santri — dari mencium tangan kiai, berlutut saat sowan, hingga memberi hadiah atau amplop — bukanlah bentuk perendahan diri, tetapi simbol latihan batin dan etika spiritual.

Santri dilatih untuk menghormati guru bukan karena status sosial, tetapi karena keyakinan bahwa ilmu tidak akan berkah tanpa adab. Dan di situlah letak kemuliaan pesantren — tempat ilmu dan akhlak disatukan menjadi karakter.

Kebiasaan santri memberikan amplop kepada kiai, misalnya, sering disalahpahami sebagai bentuk “menyuap” atau “menghidupi” kiai. Padahal, di dunia pesantren, tradisi itu dimaknai sebagai amal jariyah dan latihan memberi. Santri diajarkan untuk berani berbagi, menghormati, dan menghidupi keberkahan ilmu melalui sedekah.

Demikian pula dengan cium tangan dan berlutut di hadapan kiai, yang bagi orang luar tampak seperti perbudakan simbolik. Dalam pandangan santri, tindakan itu justru bentuk penghormatan spiritual tertinggi. Seorang santri berlutut bukan karena takut, tetapi karena ingin menundukkan ego di hadapan ilmu dan akhlak.

Kiai bukanlah raja, melainkan pembimbing ruhani. Pesantren tidak mengenal hierarki duniawi; yang ada hanyalah struktur keilmuan dan tanggung jawab moral. Di sinilah pentingnya ta’dhīm — tradisi luhur yang menjaga keseimbangan antara ilmu dan adab, antara akal dan hati.

Sayangnya, bagi sebagian kalangan media yang tumbuh dalam budaya sekular dan liberal, hal-hal seperti ini sering disalahtafsirkan karena keterputusan makna dan pengalaman batin. Mereka membaca pesantren dengan kacamata humanisme Barat, bukan dengan kebijaksanaan Islam Nusantara yang lembut dan berakar dalam sejarah.

Ketika Media Kehilangan Adab

Kasus tayangan Trans7 adalah potret nyata bagaimana media kehilangan adab dan tanggung jawab sosialnya. Dalam kejaran rating, sensasi, dan “kebebasan berekspresi”, media sering melupakan kewajiban etis untuk memahami konteks budaya dan agama yang mereka sentuh.

Kebebasan berekspresi memang dijamin undang-undang, tapi ia bukan kebebasan untuk menghina nilai-nilai sakral. Apalagi di negeri yang 87% penduduknya Muslim, dan di mana pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan tertua dan paling dihormati.

Ketika tayangan semacam Xposed Uncensored disiarkan tanpa riset mendalam, tanpa pemahaman sosial, maka yang terjadi bukanlah pencerahan, tetapi penghinaan terhadap peradaban.

Media harusnya menjadi penjaga nurani bangsa, bukan pelaku vandalisme moral.
Kebebasan media yang tidak dibingkai oleh adab hanya akan melahirkan kebodohan yang bersuara lantang di layar kaca.

Krisis Pemahaman dan Urgensi Literasi Pesantren

Kemarahan publik terhadap Trans7 bukan hanya luapan emosi keagamaan, melainkan reaksi terhadap krisis literasi budaya pesantren di kalangan elite media. Banyak jurnalis dan kreator konten kini hidup jauh dari tradisi spiritual, sehingga kehilangan sensitivitas terhadap nilai-nilai lokal dan keagamaan.

Pesantren memiliki tata kehidupan yang hanya bisa dipahami melalui pengalaman batin dan pembelajaran adab. Orang yang belum pernah “mondok” sering kali menilai dari luar — seperti menilai mutiara dari cangkangnya. Padahal, di dalam pesantren terdapat sistem pendidikan paling humanis dan egaliter:

  • Semua santri hidup setara tanpa memandang status sosial.
  • Kiai melayani santri bukan dengan gaji, tapi dengan keikhlasan.
  • Santri berbakti kepada guru bukan karena takut, tapi karena cinta ilmu.

Inilah nilai-nilai yang tidak akan pernah dimengerti oleh mereka yang hanya menilai dengan logika duniawi.

Kemarahan umat Islam kepada Trans7 harus dibaca sebagai peringatan sosial dan moral, bukan sekadar tuntutan emosional. Media televisi — dan seluruh pelaku industri kreatif — perlu belajar kembali tentang adab, empati, dan sensitivitas budaya.

Menayangkan simbol agama tanpa memahami maknanya sama saja dengan bermain api di tengah ladang kering. Ia bisa memicu kemarahan, perpecahan, bahkan chaos sosial yang sulit dikendalikan.

Karena itu, langkah terbaik bagi Trans7 bukan hanya meminta maaf, tetapi juga belajar: belajar tentang kehidupan pesantren, belajar tentang kiai dan santri, dan belajar bahwa adab lebih tinggi dari sekadar kebebasan berekspresi.

Pesantren telah ada sejak sebelum republik ini lahir, dan ia akan terus berdiri jauh setelah tayangan-tayangan kontroversial seperti ini dilupakan orang. Ia akan tetap menjadi penjaga cahaya moral dan spiritual bangsa.

Mereka yang menghina pesantren mungkin tidak tahu, bahwa justru dari pesantrenlah lahir para pendiri bangsa yang berjuang tanpa pamrih. Dari pesantrenlah lahir semangat kebangsaan yang santun, cerdas, dan beradab.

Dan karena itu, pesantren tidak boleh diremehkan, tidak pantas dijadikan bahan lelucon.
Ia adalah jantung moral umat — tempat ilmu disucikan, adab ditanamkan, dan peradaban dibangun dengan cinta. (SN)

Penulis: Gus Damas Alhasy, SS.

Related posts