Aspirasi SantriDawuh GuruKail (Kajian Ilmu)KronikaMasyayikhPolitik

Momentum Islah Lirboyo: Simbol Kembalinya NU pada Adab Ulama

Pada 25 Desember 2025, Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, kembali menorehkan namanya dalam sejarah Nahdlatul Ulama. Bukan sebagai arena perebutan kuasa, melainkan sebagai ruang islah, ruang kesadaran kolektif, tempat ego-ego struktural dipertemukan dengan hikmah para masyayikh.

Di pesantren yang sejak awal menjadi simbol tafaqquh fiddin dan keteguhan sanad keilmuan itu, terjadi rekonsiliasi (islah) antara dua figur sentral PBNU: Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf. Sebuah pertemuan yang tidak lahir dari tekanan politik, tetapi dari panggilan moral jam’iyyah.

Bukan Sekadar Damai Elit, tapi Kesadaran Jam’iyyah

Islah Lirboyo tidak boleh dibaca sebagai “damai antar tokoh”. Jika dipersempit ke sana, maka kita justru gagal menangkap makna terdalamnya. Yang terjadi di Lirboyo adalah upaya mengembalikan kesadaran para pengurus PBNU pada hakikat dirinya: bahwa mereka adalah pengemban amanah umat, bukan pemilik NU.

Para masyayikh dan mustasyar NU yang memprakarsai pertemuan ini dengan sangat sadar mendorong satu pesan kunci: NU bukan milik pengurus, NU adalah milik umat.

Pesan ini sederhana, tetapi sangat fundamental. Sebab krisis yang melanda PBNU belakangan bukan sekadar konflik personal, melainkan krisis orientasi jam’iyyah, ketika ego struktural, tafsir legal-formal, dan kepentingan kuasa terlalu dominan, sementara ruh khidmah dan adab jam’iyyah mulai terpinggirkan.

Lirboyo: Simbol Kembalinya NU pada Adab Ulama

Mengapa Lirboyo?
Karena Lirboyo bukan sekadar lokasi, melainkan simbol.

Lirboyo adalah pesantren yang berdiri di atas tradisi tawadhu’, ta’dhim, dan penghormatan pada sanad keilmuan. Di sinilah NU seolah diingatkan kembali pada DNA-nya: NU lahir dari adab sebelum organisasi, dari akhlak sebelum struktur.

Dengan diprakarsai oleh para masyayikh dan mustasyar, bukan oleh tim hukum, bukan oleh konsultan politik, islah ini menegaskan satu hal penting: bahwa persoalan NU tidak bisa diselesaikan hanya dengan pasal dan tafsir AD/ART, tetapi harus diselesaikan dengan hikmah ulama dan kebijaksanaan guru.

Muktamar: Jalan Bermartabat

Islah Lirboyo tidak berhenti sebagai peristiwa simbolik. Ia diarahkan sebagai fondasi menuju Muktamar yang dinilai sebagai jalan bermartabat, bukan sekadar sah secara administratif, tetapi juga sah secara moral dan jam’iyyah.

Pesan keras namun jujur yang mengemuka dari pertemuan ini adalah:

“Jangan tarik NU ke konflik kuasa-usaha.”

NU bukan kendaraan politik, bukan alat legitimasi kepentingan ekonomi, dan bukan panggung ambisi personal. Ketika NU diseret ke konflik kuasa dan kepentingan pragmatis, yang rugi bukan hanya warga NU, tetapi bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Sejarah telah mencatat dengan terang, ketika NU kuat dan bersatu, Indonesia relatif stabil; ketika NU terpecah dan gaduh, resonansinya merembet ke ruang kebangsaan.

Makna Strategis Islah bagi NU dan Bangsa

Islah PBNU di Lirboyo adalah peringatan sekaligus harapan. Peringatan bahwa NU sedang berada di persimpangan: apakah tetap menjadi jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah yang membimbing umat, atau tergelincir menjadi organisasi elite yang sibuk dengan konflik internal.

Dan harapan bahwa masih ada ruang kesadaran kolektif di tubuh NU, bahwa ketika para kiai duduk bersama, ego bisa ditundukkan, dan jam’iyyah bisa diselamatkan.

Untuk itu, islah Lirboyo harus dijaga sebagai awal babak baru, bukan sekadar jeda konflik. Ia menuntut konsistensi sikap, kerendahan hati struktural, dan kesediaan seluruh elite NU untuk kembali eling lan waspada.

Karena pada akhirnya, NU tidak akan diadili oleh media, bukan pula oleh pengadilan politik, tetapi oleh sejarah dan umatnya sendiri.

Dan Lirboyo, sekali lagi, telah mengingatkan NU pada jati dirinya: jam’iyyah ulama untuk umat, bukan panggung kekuasaan untuk elite. (Gus Damas Alhasy/SN)

Related posts