Editor's PicksInfo PesantrenKaderisasiMasyayikhPolitik

Di Luar Dugaan, Kuda Hitam Menang di Konfercab NU OKU Timur

OKU TIMUR – Kontestasi pemilihan Ketua PCNU OKU Timur akhirnya mencapai garis akhir. Setelah melalui rangkaian sidang yang berlangsung dalam Konferensi Cabang (Konfercab) V PCNU OKU Timur di Pondok Pesantren Nurul Fatah Karang Kemiri BK 8, Sabtu (27/6/2026), nama yang selama ini tidak banyak diperhitungkan justru tampil sebagai pemenang.

KH Imam Muarif, Ketua Lesbumi OKU Timur sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Walisongo Tumijaya Martapura, resmi ditetapkan sebagai Ketua PCNU OKU Timur masa khidmat 2026–2031.

Sementara itu, jabatan Rais Syuriah melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dipercayakan kepada KH Affandi, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja.

Dinamika Kontestasi Cukup Tegang

Konfercab V diikuti oleh 20 MWCNU dari seluruh wilayah OKU Timur. Sejak awal, suasana konferensi berlangsung dinamis karena sejumlah nama yang dianggap memiliki basis kuat turut maju dalam proses penjaringan calon ketua.

Empat kandidat yang masuk dalam proses pemilihan adalah:

  • Kyai Asrori Mustamar
  • KH Imam Muarif
  • Dr. Makmun Mukhid
  • Dr. Azkiaunuha

Sidang IV yang dipimpin Sekretaris PWNU Sumatera Selatan KH Syaifuddin Zubair dan dihadiri perwakilan PBNU KH Muhyidin berlangsung relatif lancar dan kondusif.

Hasil dukungan MWC menunjukkan:
KH Imam Muarif: 7 suara
Kyai Asrori Mustamar: 4 suara
Dr. Makmun Mukhid: 4 suara
Dr. Azkiaunuha: 5 suara

Berdasarkan tata tertib konferensi, seorang calon harus memperoleh sedikitnya enam suara dukungan untuk dapat maju ke tahapan berikutnya.

Dari empat kandidat tersebut, hanya KH Imam Muarif yang memenuhi ambang batas.

Karena hanya ada satu calon yang lolos syarat dukungan, sidang kemudian menetapkan KH Imam Muarif secara sah sebagai Ketua PCNU OKU Timur.

Kemenangan Kuda Hitam

Terpilihnya KH Imam Muarif menjadi kejutan terbesar dalam Konfercab V. Sebelum konferensi berlangsung, banyak kalangan memperkirakan persaingan akan mengerucut pada tokoh-tokoh yang lebih populer atau memiliki basis dukungan yang dianggap lebih mapan.

Namun politik organisasi kerap menghadirkan kejutan. Dukungan mayoritas MWC ternyata mengalir kepada sosok yang relatif tidak banyak diperbincangkan dalam bursa kandidat.

Banyak peninjau dan peserta konferensi mengaku tidak menyangka bahwa KH Imam Muarif justru yang muncul sebagai pemenang.

Dalam istilah politik organisasi, ia adalah “kuda hitam” yang bergerak senyap, tidak banyak tampil dalam hiruk-pikuk dukungan, tetapi memperoleh kepercayaan nyata di ruang pengambilan keputusan.

Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa di tubuh Nahdlatul Ulama, kekuatan sesungguhnya tidak selalu berada pada figur yang paling ramai diperbincangkan.

Dukungan akar rumput dan kepercayaan para pemegang hak suara tetap menjadi faktor penentu.

NU Bukan Arena Ambisi

Konfercab V PCNU OKU Timur menyampaikan pesan penting bahwa NU bukan sekadar arena kompetisi personal ataupun panggung perebutan jabatan.

Dalam organisasi keagamaan yang lahir dari tradisi ulama dan pesantren ini, legitimasi moral, kedekatan dengan warga nahdliyin, serta kemampuan membangun komunikasi di tingkat bawah sering kali lebih menentukan dibandingkan popularitas.

Terpilihnya KH Imam Muarif seolah menjadi penegasan bahwa warga NU di tingkat MWC menghendaki figur yang dipandang mampu merangkul berbagai kelompok dan menjaga keseimbangan organisasi.

Kontestasi yang sebelumnya diperkirakan berlangsung ketat akhirnya berakhir secara sederhana: hanya satu nama yang memenuhi syarat.

Hal tersebut sekaligus menjadi pelajaran bahwa dalam NU, keputusan akhir kerap lahir bukan dari kekuatan pencitraan, melainkan dari konsensus dan kepercayaan yang tumbuh di bawah.

Tantangan Besar Menanti

Meski berhasil memenangkan kontestasi, tantangan sesungguhnya justru baru dimulai.

PCNU OKU Timur ke depan menghadapi berbagai pekerjaan besar, mulai dari penguatan kelembagaan MWC, pemberdayaan ekonomi warga, pengembangan pendidikan dan pesantren, kaderisasi generasi muda NU, hingga memperkuat peran NU di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.

Visi KH Imam Muarif untuk menjadikan PCNU OKU Timur sebagai organisasi yang mandiri dan profesional akan diuji dalam lima tahun mendatang.

Kemandirian bukan hanya persoalan ekonomi organisasi, tetapi juga kemampuan PCNU membangun program yang berkelanjutan, menggerakkan potensi warga, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Profesionalisme juga menuntut tata kelola yang baik, administrasi yang tertib, kaderisasi yang berkelanjutan, dan pelayanan organisasi yang semakin modern tanpa meninggalkan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.

Saatnya Mengakhiri Kontestasi

Konfercab telah usai. Perbedaan pilihan telah selesai. Energi yang selama ini terserap dalam kontestasi kini perlu diarahkan kembali untuk membesarkan jam’iyah.

KH Muhyidin, mewakili PBNU dalam arahannya menegaskan, kontestasi tidak boleh lagi dilanjutkan dalam penyusunan kepengurusan.

“Ketua terpilih harus merangkul semua elemen untuk bersama-sama berkhidmat dan berjuang di NU. NU tidak bisa dikelola oleh satu dua orang, harus bareng-bareng,” ujarnya.

Dari arahan tersebut, KH Imam Muarif memikul amanah yang tidak ringan. Ia tidak hanya memimpin PCNU OKU Timur, tetapi juga harus mampu merangkul seluruh unsur yang sebelumnya berada dalam kompetisi.

Kemenangan ini bukan kemenangan satu kelompok, melainkan amanah seluruh warga Nahdlatul Ulama di OKU Timur.

Sebab pada akhirnya, sejarah NU selalu mengajarkan satu hal: jabatan hanyalah alat pengabdian, sedangkan yang paling penting adalah seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada umat, bangsa, dan jam’iyah.

Konfercab V telah melahirkan seorang ketua yang tidak banyak diprediksi. Kini publik Nahdliyin OKU Timur menunggu, apakah kuda hitam itu benar-benar akan membawa NU menuju organisasi yang lebih mandiri, profesional, dan semakin dekat dengan umat. (Gus Damas/SN)

Related posts