Setiap Idul Fitri tiba, umat Islam di Indonesia, terutama di tanah Jawa, seakan memiliki satu ritual yang tidak pernah absen: sungkeman. Anak bersimpuh di hadapan orang tua, mencium tangan, menangis, lalu mengucapkan permohonan maaf.
Sekilas, pemandangan ini begitu indah. Mengharukan. Bahkan dianggap sebagai puncak akhlak seorang anak kepada orang tuanya.
Namun pertanyaannya: apakah sungkeman ajaran Islam yang hidup, atau hanya menjadi seremoni adat kebiasaan masyarakat muslim Indonesia?
Tradisi yang Tidak Lahir dari Islam
Perlu ditegaskan sejak awal: sungkeman bukanlah ajaran Islam normatif. Ia tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, tidak pula dilakukan oleh para sahabat.
Tradisi ini berasal dari budaya Jawa, khususnya lingkungan keraton seperti Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta, sebagai simbol ketundukan kepada raja atau orang yang dituakan.
Baru kemudian, para ulama seperti Wali Songo melakukan pendekatan kultural: bukan menghapus, tetapi mengisi tradisi itu dengan nilai Islam.
Di sinilah sungkeman menemukan “legitimasi sosialnya”, bukan dari dalil langsung, tetapi dari proses Islamisasi budaya.
Islam Mengajarkan Birrul Walidain
Secara normatif, Islam tidak pernah mengajarkan sungkeman, tetapi Islam sangat keras dalam memerintahkan berbakti kepada orang tua (birrul walidain).
Allah berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا
Artinya:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra’: 23)
Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
رِضَا ٱللَّهِ فِي رِضَا ٱلْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ ٱللَّهِ فِي سَخَطِ ٱلْوَالِدَيْنِ
Artinya:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)
Artinya jelas: yang diperintahkan adalah akhlaknya, bukan ritualnya.
Sungkeman Sering Berhenti di Lutut, Tidak Sampai ke Hati
Inilah kritik paling mendasar. Berapa banyak anak yang sungkeman dengan penuh tangis saat lebaran tetapi sepanjang tahun berkata kasar kepada orang tua? mengabaikan mereka? bahkan menyakiti hati mereka secara diam-diam?
Sungkeman akhirnya berubah menjadi sekedar ritual simbolik tahunan untuk “membersihkan dosa”, tanpa perubahan perilaku nyata. Padahal Islam tidak mengenal “cuci dosa musiman”.
Budaya yang Diislamkan, atau Islam yang Dibudayakan?
Di satu sisi, sungkeman adalah contoh keberhasilan dakwah kultural: Islam masuk tanpa merusak tradisi. Namun di sisi lain, ada bahaya laten ketika simbol budaya lebih diagungkan daripada substansi ajaran.
Kita mulai merasa:
- Tidak sungkeman = kurang ajar
- Tapi durhaka sehari-hari = dianggap biasa
Ini adalah distorsi nilai.
Batas yang Harus Dijaga
Sungkeman bisa menjadi baik—bahkan sangat baik—jika:
- Dimaknai sebagai ekspresi tawadhu’
- Tidak diyakini sebagai ibadah khusus
- Tidak berlebihan hingga menyerupai penghambaan
Dalam kaidah fikih disebutkan:
ٱلْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ
Artinya:
“Adat kebiasaan dapat dijadikan pertimbangan hukum.”
Namun adat hanya diterima selama tidak melanggar tauhid dan tidak menggantikan nilai utama Islam
Jika sungkeman ingin tetap hidup dan bermakna, maka ia harus naik level, bukan hanya duduk bersimpuh dan menangis sesaat tetapi menjadi:
- Perubahan sikap sepanjang tahun
- Ketaatan kepada orang tua dalam keseharian
- Kesabaran menghadapi mereka
- Pengorbanan untuk membahagiakan mereka
Sungkeman bukan masalah. Yang bermasalah adalah ketika ia dijadikan puncak akhlak, padahal hanya bagian kecil dari akhlak. Islam tidak menilai seberapa rendah kita menundukkan badan,
tetapi seberapa dalam kita menundukkan ego.
Karena pada akhirnya yang sampai kepada Allah bukan air mata saat sungkeman, tetapi konsistensi dalam berbakti kepada orang tua. (Gus Damas Alhasy, dari berbagai sumber)
