Aspirasi SantriEditor's PicksMasyayikhPolitik

Di atas AD/ART NU, Ada Dawuh Kyai, Restu Ulama dan Karomah Guru

Perpecahan yang terjadi di tubuh PBNU dan dampaknya yang merembet ke jam’iyyah NU secara umum bukan sekadar konflik struktural atau perbedaan tafsir AD/ART. Ia telah berubah menjadi krisis jati diri, bahkan krisis adab.

Yang paling mengkhawatirkan bukanlah beda pendapat, melainkan hilangnya rujukan nilai khas NU: ta’dhim kepada kyai sepuh, ketaatan pada dawuh ulama sanad, dan kesadaran bahwa NU bukan organisasi biasa.

NU tidak lahir dari meja rapat administratif. NU tidak lahir dari akta notaris semata. NU lahir dari tirakat, munajat, istikharah, dan kekeramatan para wali. Ia didirikan oleh para muassis yang bukan sekadar ulama, tetapi pemegang sanad keilmuan dan spiritual yang muttashil hingga Rasulullah ﷺ. Karena itu, NU sejak awal berdiri bukan hanya legal body, melainkan jam’iyyah ruhaniyyah.

Namun hari ini, kita menyaksikan sesuatu yang janggal: kyai-kyai sepuh disepelekan, nasihat mereka diabaikan, rekomendasi mereka dianggap angin lalu. Ijtima’ para masyayikh sepuh yang berlangsung di Tebuireng, Ploso, hingga Lirboyo tidak lagi diposisikan sebagai rujukan moral dan spiritual, melainkan sekadar opini non-struktural yang boleh diabaikan.

AD/ART: Penting, Tapi Bukan Segalanya

Tidak ada yang menafikan pentingnya AD/ART. Dalam organisasi modern, AD/ART adalah fondasi tata kelola. Secara administratif dan profesional, menjadikan AD/ART sebagai basis pengambilan keputusan adalah benar.

Namun persoalannya bukan di situ.

Kesalahan fatal terjadi ketika AD/ART diperlakukan sebagai satu-satunya sumber kebenaran, sementara nilai-nilai luhur NU, yang justru menjadi ruh organisasi, dibuang atau dipinggirkan. NU bukan korporasi. NU bukan partai politik. NU bukan sekadar organisasi massa yang bisa dijalankan dengan logika hukum positif belaka.

Di atas AD/ART NU ada dawuh kyai sepuh, ada restu ulama sanad, ada karomah guru yang selama ini menjadi pagar tak kasat mata bagi keselamatan jam’iyyah. Mengabaikan itu sama saja dengan mengosongkan NU dari ruhnya sendiri.

Bahaya Besar: NU Tanpa Kyai

Jika pola ini terus dipaksakan, NU dijalankan semata-mata sebagai organisasi legal formal, maka kita sedang membuka pintu bagi bahaya besar:

Orang yang bukan NU, tidak paham NU, bahkan tidak punya rasa terhadap tradisi NU, bisa menjadi penguasa NU.

Cukup bermodal tafsir AD/ART, cukup menguasai prosedur hukum, cukup kuat secara politik, maka sah secara administratif. Tetapi kering secara spiritual, kosong secara sanad, dan jauh dari adab NU.

Inilah yang hari ini sedang dipertontonkan oleh kubu yang dengan pongahnya mengabaikan seruan-seruan kyai sepuh. Sebuah sikap yang dalam tradisi NU bukan sekadar salah prosedur, tetapi pembangkangan adab.

Dalam NU, sami’na wa atha’na bukan slogan kosong. Ia adalah etika dasar. Ta’dhim kepada guru bukan romantisme masa lalu, melainkan sistem pengaman peradaban. Ketika sistem ini dihancurkan, NU kehilangan pembeda, kehilangan keunikan, dan akhirnya kehilangan legitimasi batin umatnya sendiri.

Pengurus PBNU, siapapun orangnya, bukan pemilik NU. Mereka hanya penjaga sementara amanah besar para muassis. Tanpa restu kyai sepuh, tanpa rujukan ulama sanad, tanpa adab kepada masyayikh, jabatan struktural NU hanyalah simbol kosong.

Sejarah NU membuktikan satu hal: NU besar bukan karena pintar berorganisasi, tetapi karena berkah para kyai. NU bertahan bukan karena kuat secara hukum, tetapi karena kuat secara adab.

Jika hari ini NU sengaja “dirapikan” dengan menyingkirkan keunikan spiritualnya, maka yang sedang dibangun bukan NU, melainkan organisasi baru yang kebetulan bernama NU.

Kembali ke Pakem NU

NU masih bisa diselamatkan, bukan dengan saling menjatuhkan, tetapi dengan kembali ke pakem. Menghormati AD/ART, ya. Tetapi meletakkan dawuh kyai sepuh di tempat tertinggi, harus; sebagaimana tradisi NU sejak awal.

  • Jika NU kehilangan ta’dhim, NU kehilangan ruh.
  • Jika NU kehilangan ruh, NU tinggal nama.

Dan NU tanpa ruh bukan lagi Nahdlatul Ulama, melainkan sekadar perkumpulan legal formal tanpa berkah. (Gus Damas Alhasy/SN)

Related posts