Hari Pahlawan bukan sekadar seremoni tahunan yang diisi tabur bunga dan pidato kenegaraan. Lebih dari itu, ia adalah momentum untuk meneguhkan kembali makna perjuangan — bahwa bangsa ini berdiri di atas tetesan keringat, darah, dan doa para pejuang.
Dalam rentang sejarah panjang itu, Nahdlatul Ulama (NU) menorehkan peran besar lewat ulama, kiai, dan pejuang yang kini diakui negara sebagai Pahlawan Nasional. Hingga tahun 2025, tercatat 13 tokoh NU telah resmi menyandang gelar tersebut.
Dari Resolusi Jihad hingga Laskar Hizbullah
Nama pertama yang tak mungkin terlewat adalah KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, yang menggemakan fatwa legendaris Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Dari fatwa itu, semangat perlawanan melawan penjajah berkobar hingga meletus pertempuran 10 November di Surabaya.
Putranya, KH. Abdul Wahid Hasyim, juga mendapat gelar serupa. Ia dikenal sebagai tokoh muda brilian di BPUPKI yang memperjuangkan masuknya nilai-nilai Islam dalam dasar negara, sekaligus pembaharu pendidikan Islam di era awal kemerdekaan.
Di garis depan perjuangan fisik, berdiri pula nama KH. Zainul Arifin, Panglima Laskar Hizbullah dan tokoh politik NU yang mengabdikan hidupnya untuk republik. Sementara KH. Zainal Musthafa dari Tasikmalaya dikenang sebagai ulama pemberontak yang melawan penjajahan Jepang dengan lantang.
Ulama, Negarawan, dan Penggerak Rakyat
Lini kepemimpinan dan politik NU juga melahirkan nama-nama besar seperti KH. Idham Chalid, Ketua PBNU terlama sekaligus Ketua DPR dan Wakil Perdana Menteri Indonesia. Kiprahnya menjadi jembatan antara dunia pesantren dan negara.
Ada pula KH. Abdul Wahab Chasbullah, penggerak Tashwirul Afkar yang menjadi cikal bakal NU. Dialah yang menanamkan semangat hubbul wathan minal iman — cinta tanah air bagian dari iman — yang hingga kini menjadi ruh perjuangan santri.
Sosok KH. As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo turut dikenang sebagai penggerak dakwah dan pemersatu bangsa. Bersamanya, KH. Masykur, komandan Laskar Sabilillah, menyalakan semangat jihad kemerdekaan di berbagai daerah.
Dari Pesantren hingga Kerajaan Nusantara
Menariknya, tokoh-tokoh NU yang diangkat sebagai pahlawan tidak hanya datang dari Jawa. Ada Andi Mappanyukki, Raja Bone, dan Andi Djemma, Raja Luwu, dua tokoh Sulawesi Selatan yang juga berafiliasi dengan gerakan keislaman dan berjuang mempertahankan kemerdekaan.
Dari ujung barat Indonesia, tampil KH. Ahmad Hanafiah dari Lampung yang memimpin perlawanan terhadap penjajah di daerahnya. Sedangkan KH. Syam’un, tokoh NU dari Banten, dikenal sebagai ulama sekaligus komandan PETA yang menanamkan nasionalisme di pesantren-pesantren.
Melengkapi deretan itu, KH. Abdul Chalim Leuwimunding dari Majalengka dikenang sebagai pejuang pendidikan Islam dan tokoh awal pendiri NU yang ikut merintis kebangkitan umat di Jawa Barat.
Jejak Spiritual dan Nasionalisme Santri
Ketigabelas tokoh itu mencerminkan satu napas perjuangan: bahwa nasionalisme dan keislaman tidak pernah bertentangan, bahkan saling menguatkan. Dalam pandangan NU, cinta tanah air bukanlah konsep sekuler, melainkan wujud nyata dari iman dan pengabdian kepada Allah.
Melalui perjuangan mereka, pesantren bukan hanya tempat mengaji, tapi juga markas perlawanan, pusat pendidikan rakyat, dan benteng moral bangsa. Mereka menulis sejarah dengan kitab di tangan kanan, dan bambu runcing di tangan kiri.
Warisan untuk Generasi Santri
Kini, ketika dunia berubah cepat dan arus globalisasi menggoda nilai-nilai kebangsaan, keteladanan para pahlawan NU menjadi mercusuar moral bagi generasi santri dan umat.
Mereka menunjukkan bahwa jihad tak selalu berarti perang, tetapi juga kesungguhan dalam mendidik, menegakkan keadilan, memperjuangkan kemanusiaan, dan menjaga kedaulatan bangsa.
Hari ini, bangsa Indonesia berutang pada mereka — para kiai, ulama, dan santri — yang telah mewariskan bukan hanya kemerdekaan, tapi juga nilai: bahwa iman, ilmu, dan cinta tanah air adalah satu kesatuan perjuangan.
Berikut daftar 13 tokoh dari Nahdlatul Ulama (NU) yang telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia.
| No | Nama Tokoh | Gelar Pahlawan Nasional | Keterangan Singkat |
| 1 | KH Hasyim Asy’ari | SK Presiden No. 294 / 17 Nov 1964 | Pendiri NU, penerbit fatwa Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. |
| 2 | KH Zainul Arifin | SK Presiden No. 35 / 4 Mar 1963 | Tokoh NU asal Sumatra Utara; panglima Laskar Hizbullah. |
| 3 | KH Abdul Wahid Hasyim | SK Presiden No. 206 / 24 Agus 1964 | Putra KH Hasyim Asy’ari; politikus, pendidik, anggota BPUPKI/PPKI. |
| 4 | KH Zainal Musthafa | SK Presiden No. 064 / Nov 1972 | Ulama NU dari Tasikmalaya; perlawanan terhadap penjajah. |
| 5 | KH Idham Chalid | SK Presiden No. 113 / 7 Nov 2011 | Tokoh NU, politisi, mantan Ketua PBNU 1956-1984. |
| 6 | KH Abdul Wahab Chasbullah | SK Presiden No. 115 / 6 Nov 2014 | Pendiri Tashwirul Afkar, Madrasah, salah satu tokoh awal NU. |
| 7 | KH As’ad Syamsul Arifin | Gelar pada 2016 | Ulama besar NU, berasal dari Situbondo, Jawa Timur. |
| 8 | KH Masykur | SK Presiden 8 Nov 2019 | Komandan Laskar Sabilillah, tokoh santri pejuang kemerdekaan. |
| 9 | Andi Mappanyukki | Termasuk dalam daftar 13 Tokoh NU Pahlawan Nasional | Raja Bone, Sulawesi Selatan; tokoh NU & perlawanan kolonial. |
| 10 | Andi Djemma | Termasuk dalam daftar 13 Tokoh NU Pahlawan Nasional | Raja Luwu, Sulawesi Selatan; pendiri NU Sul-Sel dan pejuang. |
| 11 | KH Syam’un | SK Presiden 8 Nov 2018 | Ulama NU, Komandan PETA/Batalion semasa kemerdekaan. |
| 12 | KH Ahmad Hanafiah | Termasuk daftar 13 Tokoh NU Pahlawan Nasional | Ulama NU dari Lampung; terlibat perjuangan kemerdekaan. |
| 13 | KH Abdul Chalim Leuwimunding | Diusulkan & dicatat dalam daftar 13 Tokoh NU Pahlawan Nasional | Tokoh NU dari Majalengka, Jawa Barat; aktif awal pendirian NU. |
(SN)
