Aspirasi SantriEditor's PicksKaderisasiKail (Kajian Ilmu)KronikaMaklumat

NU Hari ini Bukan Lagi Rumah Ulama, Melainkan Pasar Kepentingan & Transaksi

Nahdlatul Ulama bukan didirikan untuk mengelola tambang, bukan untuk menjadi broker kekuasaan, dan bukan pula untuk melahirkan elit-elit politik bermodal besar. NU lahir sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah, alat perjuangan ulama untuk menjaga agama, tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, dan kedaulatan bangsa.

Para muassis NU, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. Mas Alwi Abdul Aziz, KH. Abdul Halim, dan jaringan kiai pesantren Nusantara, membangun NU dengan tirakat, bukan transaksi; dengan sanad, bukan sponsor atau koper-koper penuh uang.

Namun NU hari ini telah berubah wajah secara ideologis. Yang tersisa dari NU hanyalah nama besar dan massa, sementara ruh perjuangannya telah terkikis oleh materialisme struktural. NU tidak lagi diperebutkan karena khidmah, tetapi karena nilai ekonominya.

Uang sebagai Ideologi Baru NU

Dalam praktik hari ini, uang bukan lagi sekadar alat, tetapi telah menjelma menjadi ideologi tak tertulis NU. Realitas pahit yang diketahui semua orang namun pura-pura diingkari: siapa yang ingin menjadi Ketua PBNU, PWNU, atau PCNU harus punya modal finansial besar. Tanpa itu, sehebat apa pun keilmuan dan integritasnya, ia akan tersingkir sebelum gelanggang dimulai.

Muktamar, Muskerwil, dan Muskercab telah direduksi menjadi arena kompetisi modal, bukan kompetisi gagasan. Amplop lebih menentukan daripada maqalah ilmiah. Logistik lebih berkuasa daripada sanad keilmuan. Inilah pengkhianatan terbuka terhadap tradisi NU yang menjunjung al-‘ilmu qabla al-qawl wa al-‘amal.

NU hari ini telah secara vulgar mengadopsi logika partai politik kapitalistik, tanpa mekanisme kontrol ideologis yang tegas. Akibatnya, NU bukan lagi rumah ulama, melainkan pasar kepentingan.

Kini NU adalah Alat, Bukan Tujuan

Lebih berbahaya lagi, NU kini diperlakukan sebagai alat, bukan tujuan perjuangan. Banyak elit masuk NU bukan karena iman jam’iyyah, bukan karena cinta Aswaja, melainkan karena NU dianggap kendaraan strategis: untuk mengorbitkan nama, mengamankan posisi, mendekat ke kekuasaan, dan membuka akses ekonomi.

NU dijadikan jembatan karir, lalu ditinggalkan ketika sudah tidak relevan, dilupakan ketika kedudukan sudah tergapai. Inilah sebabnya NU hari ini penuh dengan figur yang asing secara kultural, miskin adab pesantren, dan nihil loyalitas ideologis, namun kaya akses dan relasi.

Ironisnya, NU sangat longgar menerima siapa pun di posisi strategis, bahkan dari kelompok yang memiliki organisasi ideologis sendiri (seperti habaib dengan Rabithah Alawiyah) yang bahkan mereka tidak pernah membuka ruang timbal balik bagi NU. Ini bukan toleransi, ini kelumpuhan ideologis. NU gagal menjaga kedaulatan organisasinya sendiri.

Konflik PBNU: Bukan AD/ART, Tapi Rebutan Aset

Membaca konflik PBNU hari ini semata-mata sebagai pelanggaran AD/ART adalah analisis dangkal dan menipu umat. AD/ART hanyalah dalih legal-formal untuk menutupi fakta yang lebih telanjang: perebutan kendali atas sumber daya ekonomi.

Isu pengelolaan tambang dan aset strategis NU menjadi pemantik terbuka konflik. Kubu yang setuju dan kubu yang menolak tidak sedang berdebat soal maslahat umat, tetapi sedang bertarung menentukan siapa yang menguasai kunci ekonomi NU.

Ketika uang masuk ke ruang ulama tanpa pagar etik yang kokoh, maka yang lahir bukan ijtihad, melainkan friksi.

Runtuhnya Marwah Ulama

Yang paling menghancurkan NU bukan konflik itu sendiri, melainkan cara konflik dijalankan. Ulama dan kiai, yang seharusnya menjadi simbol keteduhan, justru tampil sebagai aktor pertengkaran terbuka, saling membully, mencaci, dan menghujat melalui media dan buzzer.

Ini bukan sekadar pelanggaran adab. Ini adalah krisis otoritas moral ulama. Ketika ulama kehilangan kemampuan menjaga lisannya, maka umat kehilangan arah. Ketika kiai mempertontonkan ego, maka nilai tawadhu’ mati di hadapan santri-santrinya.

Kami, generasi muda Nahdliyin, dididik untuk sami’na wa atha’na, untuk ta’dhim, untuk andap asor. Tetapi hari ini, yang kami saksikan adalah ulama yang saling menegasikan, bukan saling menasihati. Masing-masing kubu mengklaim paling benar, paling sah, paling Aswaja; sementara prinsip tawassuth, tawazun, dan tabayyun dibuang sebagai slogan kosong.

NU dalam Bahaya Serius

NU hari ini tidak terancam oleh Wahabisme, liberalisme, atau ideologi asing. Ancaman terbesar NU justru datang dari internalnya sendiri: ketika uang menjadi penentu kepemimpinan, ketika jabatan menjadi tujuan khidmah, dan ketika ulama kehilangan adab dalam konflik.

Jika para muassis NU hari ini bangkit dari kuburnya, mereka tidak akan mengenali NU yang mereka dirikan. Yang berdiri hari ini bukan jam’iyyah ulama, tetapi institusi besar yang kehilangan ruh.

NU harus memilih: kembali ke jalan muassis atau bersiap hancur oleh konflik internalnya sendiri. Tidak ada jalan tengah antara khidmah dan kerakusan. Tidak ada kompromi antara sanad dan sponsor/uang.

Generasi muda Nahdliyin tidak menuntut NU sempurna. Kami hanya menuntut NU jujur pada sejarah dan jati dirinya sendiri. Jika NU terus dibiarkan dikuasai oleh logika uang dan kekuasaan, maka tangisan kami hari ini akan menjadi ratapan penutup sebuah peradaban keulamaan.

Dan sejarah akan mencatat dengan kejam: NU tidak mati karena diserang musuh, tetapi karena dikhianati oleh elitnya sendiri. (Gus Damas Alhasy/SN)

Related posts