Lapangan Tawang Rejo BK 8 Belitang, OKU Timur, bergemuruh. Ribuan kader dan jamaah Nahdlatul Ulama dari berbagai penjuru Sumatera Selatan tumpah ruah menghadiri Silaturahmi Daerah (Silatda) Kader NU se-Sumsel. Puncak perhatian tertuju pada sosok kharismatik asal Malang, Jawa Timur: KH. Marzuki Mustamar, Minggu (31/1/2026)
Sejak menaiki panggung, aura keteguhan dan keberanian langsung terasa. Mauidzoh hasanah yang disampaikan bukan sekadar ceramah keagamaan, melainkan seruan ideologis, kebangsaan, dan ke-NU-an yang menghunjam kesadaran jamaah.
Acara akbar ini turut dihadiri jajaran lengkap pejabat daerah dan provinsi, di antaranya Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru, Bupati OKU Timur Ir. H. Lanosin, Ketua DPRD OKU Timur, Forkopimda provinsi dan kabupaten, para kiai, ulama, serta para pengasuh pondok pesantren. Kehadiran para pemimpin daerah ini menegaskan bahwa NU bukan hanya kekuatan keagamaan, tetapi juga pilar strategis bangsa.
KH. Marzuki Mustamar membuka mauidzoh dengan pembacaan Hizb Nashor, yang diikuti serentak oleh ribuan jamaah. Lapangan terbuka berubah menjadi samudra doa, menciptakan suasana khusyuk sekaligus membangkitkan ruh perjuangan.
Dalam penyampaian mauidzohnya, KH. Marzuki Mustamar menegaskan dengan nada keras, tegas, dan tanpa kompromi:
“Jangan pernah berpikir untuk keluar dari NU. NU inilah satu-satunya perekat jamaah di negeri kita tercinta, Indonesia.”
Menurutnya, NU bukan sekadar organisasi, melainkan rumah besar umat Islam Indonesia yang berhasil memadukan agama, budaya, dan kebangsaan dalam satu nafas perjuangan.
KH. Marzuki menekankan bahwa menjadi muslim Indonesia tidak harus menjadi Arab. Islam yang hidup di Nusantara adalah Islam yang membumi, ramah, berkarakter, dan selaras dengan jati diri bangsa. Ia memberi analogi tajam:
“Kalau Hindu, jadilah Hindu Indonesia, bukan Hindu India. Kalau Konghucu, jadilah Konghucu Indonesia, bukan Konghucu Cina. Kalau Kristen, jadilah Kristen Indonesia, bukan Kristen Eropa atau Amerika.”
Dengan prinsip ini, bangsa Indonesia dapat hidup damai, harmonis, dan sejahtera, lahir maupun batin. Agama tidak tercerabut dari tanah air, dan cinta tanah air tidak bertentangan dengan iman.
Lebih jauh, KH. Marzuki Mustamar mengingatkan jamaah agar berorganisasi secara benar dan organisasi Islam yang cocok dengan karakter bangsa Indonesia adalah Nahdlatul Ulama. Ia mewanti-wanti jamaah agar tidak terjebak dalam paham-paham yang merusak persatuan umat, seperti kelompok yang gemar mengkafirkan sesama muslim hanya karena perbedaan amaliyah.
Dengan lugas, ia mengajak jamaah untuk istiqomah di jalan Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah, jalan tengah yang menyejukkan, bukan jalan ekstrem yang memecah belah.
“NU membela agama sekaligus membela tanah air. Di dada setiap nahdliyin tertanam kuat NKRI harga mati, Pancasila jaya.”
Dalam satu jam penuh KH. Marzuki Mustamar menyampaikan mauidzoh tanpa membuat jamaah beranjak. Ribuan kader menyimak dengan penuh perhatian, larut dalam pesan-pesan keikhlasan, militansi ke-NU-an, dan tanggung jawab kebangsaan.
Silatda Kader NU se-Sumatera Selatan ini bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi konsolidasi ideologi dan semangat perjuangan. KH. Marzuki Mustamar berhasil menggugah kesadaran bahwa NU adalah benteng terakhir Islam Nusantara, penjaga harmoni, dan perekat keutuhan Indonesia.
Dari Lapangan Tawang Rejo, satu pesan KH. Marzuki Mustamar menggaung kuat ke seluruh penjuru Sumatera Selatan dan Indonesia: tetaplah ber-NU, pegang erat akidah Aswaja, teguh menjaga NKRI, dan terus membumikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. (SN)
