Memasuki satu minggu puasa Ramadhan 1447 Hijriah (2026 M), umat Islam di Indonesia tahun ini menunaikan ibadah puasa di tengah suasana sosial dan politik yang tidak sedang baik-baik saja.
Ramadhan yang semestinya menjadi momentum tazkiyatun nafs, penyucian jiwa, justru datang saat ruang publik dipenuhi silang sengkarut kebijakan, kontroversi, dan kegelisahan rakyat kecil.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan kejujuran, empati, pengendalian diri, dan keberpihakan kepada yang lemah. Namun di tengah ibadah yang sakral ini, publik disuguhi berbagai isu yang menyesakkan dada.
Kontroversi MBG dan Luka Kepercayaan Publik
Program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang digadang-gadang sebagai solusi gizi dan penggerak ekonomi rakyat, justru menuai sorotan tajam. Sejumlah laporan menyebut adanya kasus siswa yang mengalami keracunan makanan.
Di tempat lain, muncul kritik ketika pembagian makanan dilakukan saat siswa sedang berpuasa Ramadhan, yang oleh banyak kalangan dinilai melecehkan nilai-nilai syariat dan suasana ibadah.
Tak berhenti di situ, dalam sidang kabinet, laporan keberhasilan program ini disebut-sebut terlalu berlebihan. Di tengah kritik tersebut, Presiden Prabowo Subianto tampak tetap percaya diri dengan capaian yang dipaparkan para pembantunya.
Bagi masyarakat yang sedang berjuang menghadapi harga kebutuhan pokok, lapangan kerja yang sempit, serta kualitas pendidikan yang belum merata, narasi keberhasilan yang tidak selaras dengan realitas justru melahirkan jarak antara pemerintah dan rakyat.
Kecurigaan tentang potensi penyimpangan anggaran pun beredar luas di ruang publik, meski tentu hal ini membutuhkan pembuktian hukum yang adil dan transparan.
Ramadhan mengajarkan kejujuran. Jika ada yang perlu dievaluasi, maka keberanian untuk mengakui kekurangan jauh lebih mulia daripada mempertahankan citra.
Diplomasi dan Simbolisme Kekuasaan
Di ranah internasional, Presiden Prabowo mendapat sorotan setelah menerima pujian dari Presiden Donald Trump terkait peran Indonesia dalam forum perdamaian global. Secara diplomatik, pujian tersebut dapat dipandang sebagai pengakuan posisi strategis Indonesia.
Namun publik bertanya: sejauh mana kebanggaan simbolik itu berbanding lurus dengan perbaikan nasib rakyat di dalam negeri? Apakah pengakuan luar negeri mampu menjawab persoalan kemiskinan, pendidikan, dan ketimpangan sosial?
Isu lain yang memantik diskusi adalah kebijakan terkait ekspor komoditas dari Amerika Serikat yang disebut tidak lagi harus mencantumkan label halal. Bagi negeri dengan mayoritas penduduk muslim, isu halal bukan sekadar administratif, tetapi menyangkut prinsip keyakinan. Ketika sensitivitas terhadap nilai agama dianggap longgar, kegelisahan pun tak terelakkan.
Di tengah hingar-bingar politik dan program besar, tragedi kemanusiaan terus terjadi. Seorang anak di Nusa Tenggara Timur dikabarkan bunuh diri karena tak mampu membeli buku dan membayar sekolah. Di tempat lain, seorang anak bernama Nizam meninggal dunia akibat dugaan penganiayaan oleh ibu tirinya.
Pertanyaannya sederhana namun menghunjam: di mana prioritas kita sebagai bangsa?
Ramadhan seharusnya menajamkan empati. Ketika anak-anak kehilangan harapan hidup karena beban ekonomi, dan kekerasan dalam rumah tangga merenggut nyawa yang tak berdosa, maka ada yang salah bukan hanya dalam kebijakan, tetapi dalam nurani kolektif kita.
Mayoritas Muslim, Minoritas Nilai?
Indonesia adalah negeri dengan populasi muslim terbesar di dunia. Namun mayoritas angka tidak otomatis menjamin mayoritas akhlak. Korupsi yang terus berulang, manipulasi laporan, pembiaran terhadap ketidakadilan, semuanya menunjukkan krisis nilai yang lebih parah dari sekadar krisis ekonomi.
Mengapa kita seolah baik-baik saja ketika aturan syariat dilanggar? Mengapa rasa malu semakin menipis ketika amanah dikhianati? Mengapa adab publik terasa semakin kasar, dan etika kekuasaan semakin tumpul?
Ramadhan adalah cermin. Ia memantulkan siapa diri kita yang sebenarnya. Jika puasa hanya berhenti pada menahan lapar, sementara kebohongan tetap dipelihara, ketidakadilan dibiarkan, dan korupsi dianggap lumrah, maka yang lapar bukan hanya perut, tetapi hati dan akal sehat kita.
Satu minggu sudah Ramadhan kita lalui. Masih ada waktu untuk memperbaiki diri, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa. Pemerintah perlu membuka ruang evaluasi yang jujur dan transparan. Kritik tidak selalu berarti kebencian; sering kali ia adalah bentuk cinta agar negeri ini tidak tersesat lebih jauh.
Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah panggilan revolusi moral. Jika negeri ini ingin bangkit, maka kebangkitan itu harus dimulai dari kejujuran, keberanian menegakkan kebenaran, dan ketundukan sejati kepada Allah SWT.
Sebab tanpa itu, sebanyak apa pun program diluncurkan, sebanyak apa pun pujian diterima, bangsa ini akan tetap kehilangan arah. (Gus Damas Alhasy/SN)
