Di tengah derasnya arus perubahan zaman, orang tua hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Era digital menghadirkan kemudahan, tetapi sekaligus membawa ancaman serius bagi masa depan anak-anak, terutama dalam aspek agama, akhlak, dan kedekatan mereka dengan Al-Qur’an.
Oleh karena itu, orang tua zaman now harus benar-benar sadar dan tegas dalam menentukan prioritas pendidikan bagi anak-anak mereka. Dan prioritas itu tidak boleh salah arah.
Di zaman seperti sekarang, pendidikan agama, adab, dan Al-Qur’an harus ditempatkan sebagai prioritas pertama, bukan pelengkap, apalagi sekadar formalitas. Prestasi akademik, kecakapan teknologi, dan capaian sekolah formal memang penting, tetapi semuanya harus berdiri di atas fondasi agama yang kokoh. Tanpa fondasi tersebut, kecerdasan justru bisa berubah menjadi bumerang.
Tantangan Generasi Z dan Alfa
Generasi Z dan Alfa tumbuh dalam dunia yang nyaris tanpa sekat. Akses informasi begitu terbuka, gadget ada di tangan sejak usia dini, dan budaya digital membentuk pola pikir, kebiasaan, bahkan karakter mereka. Di satu sisi, ini adalah peluang besar. Namun di sisi lain, jika tanpa bimbingan agama yang kuat, anak-anak sangat rentan kehilangan arah.
Banyak orang tua lengah. Anak-anak dibiarkan akrab dengan gadget sebelum akrab dengan Al-Qur’an. Mereka fasih mengoperasikan aplikasi, tetapi gagap membaca huruf hijaiyah. Mereka berani berbicara di depan kamera, tetapi malas berdiri di hadapan Allah dalam sholat. Ini bukan persoalan kecil, melainkan alarm keras bagi dunia pendidikan keluarga Muslim.
Jika sejak dini anak tidak ditanamkan kewajiban sholat, tidak dibiasakan membaca Al-Qur’an, dan tidak dikenalkan adab Islam secara tegas, maka di masa remaja mereka akan semakin sulit diarahkan. Bahkan tak jarang muncul rasa malu untuk belajar agama, merasa “terlambat”, lalu memilih menjauh.
Pendidikan Agama Tidak Bisa Ditunda
Pendidikan agama bukan pilihan, melainkan kewajiban. Sholat bukan sekadar anjuran, tetapi perintah yang tidak boleh ditawar-tawar. Anak-anak harus dididik sejak dini tentang kewajiban sholat, tata caranya, maknanya, dan disiplin dalam melaksanakannya. Demikian pula dengan Al-Qur’an, orang tua harus memastikan anak-anaknya belajar membaca Al-Qur’an sejak usia dini hingga lancar dan fasih.
Menunda pendidikan agama dengan alasan “nanti saja kalau sudah besar” adalah kesalahan fatal. Justru ketika anak masih kecil, hatinya masih lembut, memorinya kuat, dan kebiasaannya mudah dibentuk. Fondasi inilah yang akan menjadi benteng ketika mereka berhadapan dengan godaan zaman, pergaulan bebas, dan krisis moral di kemudian hari.
Akademik Penting, tetapi Bukan yang Utama
Bukan berarti prestasi akademik harus diabaikan. Idealnya, pendidikan agama dan pendidikan formal berjalan simultan dan beriringan. Anak-anak yang memiliki dasar agama yang kuat justru cenderung lebih disiplin, beradab, dan bertanggung jawab dalam belajar. Namun jika harus memilih prioritas, maka agama tetap harus berada di urutan pertama.
Tanpa agama, kecerdasan bisa kehilangan arah. Tanpa adab, ilmu bisa menjadi sumber kerusakan. Sejarah telah menunjukkan bahwa kehancuran suatu generasi sering kali bukan karena kurang pintar, tetapi karena kehilangan nilai dan iman.
Pesantren adalah Solusi Nyata
Jika orang tua merasa tidak mampu mendidik anak secara optimal dalam hal agama—baik karena keterbatasan ilmu, waktu, atau lingkungan—maka mengirim anak ke pondok pesantren adalah solusi yang realistis dan praktis. Pesantren menyediakan lingkungan yang kondusif untuk pembinaan iman, akhlak, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an secara terstruktur dan berkelanjutan.
Mengirim anak ke pesantren bukan berarti menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya, melainkan bentuk ikhtiar serius orang tua dalam menyelamatkan masa depan anak-anaknya. Dengan langkah ini, orang tua sejatinya sedang menjaga anak dari kehancuran agama, kerusakan akhlak, serta iliterasi terhadap Al-Qur’an, dan pada saat yang sama menyelamatkan diri mereka sendiri dari pertanggungjawaban yang berat di hadapan Allah SWT.
Jangan Sampai Terlambat
Kesadaran ini harus tumbuh sekarang, bukan nanti. Jangan menunggu anak kecanduan gadget, terlalu larut dalam dunia digital, atau terlanjur jauh dari nilai-nilai agama. Fondasi agama harus ditanamkan sebelum semuanya terlambat.
Masa depan anak-anak bukan hanya soal karier dan gelar, tetapi tentang siapa mereka kelak di hadapan Allah. Orang tua zaman now harus berani mengambil sikap tegas: agama dulu, baru yang lain. Karena hanya dengan itulah kita bisa berharap melahirkan generasi yang kuat imannya, lurus akhlaknya, cerdas akalnya, dan selamat dunia-akhirat. (Gus Damas Alhasy/SN)
Info Pondok Tahfidz Gumawang, Belitang, OKU Timur: 0858 3062 6599
