Kerangka Analisis
Konflik PBNU saat ini bukan konflik personal semata, melainkan konflik struktur otoritas antara:
otoritas keulamaan tradisional (moral–spiritual)
vs
otoritas struktural–legal–manajerial.
Dengan kata lain: siapa yang berhak menentukan arah NU—para kiai sepuh atau elite struktural?
I. Peta Aktor Utama
1. Kelompok Struktural PBNU (Status Quo)
Figur kunci (representatif):
- Ketua Umum PBNU (Gus Yahya)
- Rais ‘Aam PBNU (KH. Miftakhul Akhyar)
- Lingkar inti PBNU & Lembaga Strategis
Basis legitimasi:
- AD/ART
- Keputusan Muktamar
- Legalitas struktural
- Pengakuan negara & publik nasional
Karakter pendekatan:
- Legalistik
- Manajerial-modern
- Mediatik
- Stabilitas organisasi diutamakan
Kepentingan utama:
- Menjaga keabsahan hasil Muktamar Lampung
- Menghindari preseden bahwa struktur bisa “dikoreksi” oleh forum non-struktural
- Menjaga posisi NU sebagai mitra strategis negara dan aktor global
2. Kelompok Kiai Sepuh & Pesantren Besar
Basis sosial:
- Tebuireng
- Lirboyo
- Ploso
- Pesantren-pesantren sepuh jalur sanad klasik NU
Basis legitimasi:
- Sanad keilmuan
- Karisma keulamaan
- Sejarah penjagaan NU
- Otoritas moral jamaah akar rumput
Karakter pendekatan:
- Musyawarah
- Tabayyun internal
- Etika adab
- Kehati-hatian ideologis
Kepentingan utama:
- Mengembalikan NU pada manhaj jam’iyyah ulama
- Menjaga jarak NU dari manuver politik & global yang tidak melalui musyawarah
- Menegur arah kepemimpinan yang dianggap menyimpang secara adab dan hikmah
3. AHWA (Ahlul Halli wal ‘Aqd) – Aktor Kunci yang Terbelah
Posisi strategis:
- Pengangkat Rais ‘Aam
- Penentu legitimasi keulamaan tertinggi secara ideologis
Masalah utama:
- Secara historis menjadi sumber legitimasi Rais ‘Aam
- Namun sebagian anggotanya justru terlibat atau mendukung kritik terhadap PBNU
Ketegangan internal:
- Antara loyalitas struktural
- dan tanggung jawab moral sebagai kiai sepuh
4. Jamaah NU Akar Rumput
Ciri khas:
- Tidak terwakili langsung
- Sangat sensitif terhadap isu adab kiai
- Loyal pada pesantren, bukan struktur PBNU
Peran laten:
- Penentu legitimasi sosial jangka panjang
- Sumber tekanan moral (diam tapi menentukan)
II. Peta Kepentingan yang Bertabrakan
| Dimensi | Kelompok Struktural | Kiai Sepuh |
|---|---|---|
| Legitimasi | Legal-formal | Moral-spiritual |
| Sumber kebenaran | AD/ART & Muktamar | Musyawarah & hikmah |
| Orientasi | Stabilitas & posisi | Keselamatan jam’iyyah |
| Cara menyelesaikan konflik | Klarifikasi publik & prosedural | Sowan & ijtima’ ulama |
| Ketakutan utama | Delegitimasi struktur | Hilangnya ruh NU |
III. Skenario Konflik yang Sedang dan Bisa Terjadi
Skenario 1: Konsolidasi Legalistik (yang sedang berjalan)
Ciri:
- PBNU mengunci konflik pada AD/ART
- Musyawarah sepuh dinyatakan tidak mengikat
- Narasi dibangun lewat media nasional
Risiko:
- NU sah secara hukum, rapuh secara batin
- Jarak struktural–pesantren makin lebar
- Otoritas PBNU melemah di mata jamaah
Skenario 2: Dualisme Otoritas (sangat berbahaya)
Ciri:
- Struktur berjalan sendiri
- Kiai sepuh membangun konsensus moral sendiri
- Jamaah bingung: ikut siapa?
Dampak:
- Fragmentasi loyalitas
- NU terbelah secara sosial meski tetap satu secara hukum
Skenario 3: Rekonsiliasi Berbasis Musyawarah Ulama (jalan ideal NU)
Prasyarat:
- PBNU membuka ruang rujû’ ilal hikmah
- Rais ‘Aam melakukan sowan kolektif
- Forum sepuh diberi tempat sebagai korektor moral
Keuntungan:
- Struktur tetap sah
- Marwah ulama terjaga
- NU selamat secara lahir dan batin
IV. Inti Masalah yang Sering Diabaikan
Konflik ini bukan soal:
- siapa dekat dengan siapa,
- siapa muncul di media apa,
- atau siapa lebih populer.
Tetapi soal:
apakah NU masih dipimpin dengan adab pesantren atau sudah sepenuhnya dikelola dengan logika kekuasaan modern.
Intinya
- Rais ‘Aam tidak bisa dilepaskan dari AHWA yang mengangkatnya.
- Mengabaikan seruan kiai sepuh berarti memutus mata rantai legitimasi moral.
- AD/ART tidak cukup untuk menyelamatkan NU tanpa ridha ulama.
- Konflik ini akan selesai bukan di media, tetapi di ndalem para kiai sepuh.
NU boleh kuat secara struktur,
tetapi NU hanya hidup karena doa para kiai.
(Gus Damas Alhasy, SS)
