Nahdlatul Ulama (NU), organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, saat ini sedang mengalami goncangan di tingkat elite. Konflik, saling tuding, desakan mundur, dan dinamika internal di tingkatan paling atas membuat publik, khususnya jamaah NU di akar rumput, bertanya-tanya: apa yang sebenarnya terjadi, dan ke mana arah para pemimpin NU membawa organisasi ini?
Bagi warga NU di level grassroot, NU bukan sekadar organisasi sosial keagamaan. NU adalah rumah akidah, ruang pengabdian, dan warisan perjuangan muassis yang dirawat sepenuh hati, bahkan sebelum republik ini berdiri.
Mereka menjaga tradisi keilmuan, memakmurkan masjid dan pesantren, menggelar tahlil, manaqib, manasik haji, kajian kitab setiap malam, dan melakukan ribuan tugas keagamaan lain yang tidak pernah dicatat media. Mayoritas dari mereka tidak bergaji, bahkan sering merelakan uang pribadi untuk kegiatan jamaah.
Merekalah tulang punggung NU yang sesungguhnya.
Maka, ketika elite NU di tingkat pusat bersitegang dan saling berebut pengaruh, para pejuang di akar rumput itu merasakan sesuatu yang getir: NU seakan lebih sibuk menjadi arena perebutan jabatan daripada ladang pengabdian.
NU: Ladang Pengabdian atau Tangga Kekuasaan?
Aspirasi masyarakat, terutama dari kalangan NU, untuk mengisi jabatan publik sebenarnya tidak salah. Bahkan wajib, agar wajah kebangsaan tidak diisi oleh mereka yang jauh dari nilai-nilai moderasi, keadaban, dan tradisi Indonesia.
Para kader NU sangat pantas menduduki jabatan strategis: menteri, komisaris BUMN, kepala kantor Kemenag provinsi, hingga wakil rakyat.
Salahnya adalah ketika NU dijadikan kuda tunggangan untuk mencapai jabatan itu.
Ketika mengurus NU bukan lagi soal ikhlas lillāh, melainkan lillah jabatan.
Ketika pertemuan elite lebih sibuk mengatur strategi politik ketimbang memperkuat basis, pesantren, kaderisasi, dan dakwah kebangsaan.
Ketika para intelektual muda NU lebih sibuk berkelompok daripada bersinergi membangun masa depan organisasi.
Padahal para muassis NU menegaskan bahwa jabatan adalah buah pengabdian, bukan tujuan pengabdian. Jabatan itu hadiah, bukan incaran. Ia datang karena kiprah, bukan karena manuver.
Di Bawah Berjuang, di Atas bertikai
Di kampung-kampung, para kiai kecil dan tokoh NU tingkat desa-lah yang menjaga marwah organisasi ini. Mereka mendidik santri, membina masyarakat, mengadakan kegiatan rutin, memecahkan masalah sosial, bahkan menjadi penengah konflik. Mereka mengusung bendera NU tanpa pamrih.
Maka, ketika mereka menyaksikan para elite yang seharusnya menjadi teladan justru terlibat konflik untuk memperebutkan jabatan, yang muncul bukan sekadar rasa kecewa, tetapi rasa malu.
Bukan malu karena NU terguncang—sebab NU telah berkali-kali diuji oleh sejarah.
Tetapi malu karena wajah organisasi yang sakral bagi mereka tercoreng oleh perilaku sebagian elite yang sibuk dengan kepentingan masing-masing.
Sementara di bawah, masyarakat berjuang mempertahankan jati diri NU dari pengaruh paham-paham ekstrem, menjaga akidah Aswaja, memperkuat ukhuwah, dan mengawal moralitas bangsa.
Grassroot Butuh Keteladanan
Grassroot tidak menuntut kursi, fasilitas, atau popularitas. Mereka hanya ingin keteladanan.
Mereka ingin melihat pimpinan PBNU bersikap bijak, teduh, dewasa, penuh keluasan hati, seperti para sesepuh dan muassis: Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, KH As’ad Syamsul Arifin.
Mereka ingin melihat pemimpin yang mampu meredam gejolak, bukan memantik konflik. Pemimpin yang mendahulukan maslahat organisasi, bukan kepentingan pribadi. Pemimpin yang mampu merangkul, bukan mengotak-ngotakkan.
Karena NU terlalu besar jika hanya dijadikan batu loncatan karir. NU adalah amanah peradaban.
Para Elit Harus Bercermin
NU telah melewati berbagai ujian—politik zaman orde lama, tekanan orde baru, konflik internal, hingga dinamika demokrasi modern. Semua itu tidak meruntuhkannya. Ini membuktikan bahwa NU kuat bukan karena elitnya, tetapi karena basis jamaah yang ikhlas dan istiqamah.
Namun para elit tidak boleh menutup mata: kelelahan moral di kalangan grassroot itu nyata. Kekecewaan mereka itu benar. Dan suara hati mereka tidak boleh dianggap angin lewat.
Para elit PBNU hari ini perlu kembali bercermin pada nilai awal berdirinya organisasi:
“Ikhlas, berkhidmah, dan menjaga umat, bukan menjaga jabatan.”
Jika konflik elite terus berlangsung, maka yang luka bukan hanya para pemimpin, tetapi juga rasa percaya jutaan warga NU yang selama ini menjadi penjaga sejati marwah organisasi.
Saatnya Kembali ke Jalan Para Muassis
Goncangan di tubuh PBNU seyogianya menjadi momentum untuk kembali ke ruh perjuangan. NU harus kembali menjadi rumah besar yang damai, teduh, dan menenteramkan, bukan arena kompetisi kekuasaan yang gaduh.
Jabatan boleh dicari, tetapi jangan jadikan NU sebagai alat untuk mencarinya. Kekuatan NU bukan pada apa yang terjadi di Jakarta, melainkan pada jutaan pecinta kitab kuning, pengamal amalan tradisi, dan para pejuang di pelosok desa.
Grassroot ingin melihat NU yang kembali berwibawa, bermartabat, dewasa, dan penuh keteladanan. Jika para elit kembali pada prinsip pengabdian, maka jamaah di bawah akan kembali mantap memegang teguh NU sebagai organisasi yang bukan hanya besar secara jumlah, tetapi juga besar secara akhlak dan adab. (Gus Damas Alhasy/SN)
