Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi identitas sebuah bangsa dan komunitas. Begitu pula dengan sejarah Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia yang lahir dari semangat menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
Karena itu, setiap upaya membelokkan sejarah pendirian NU tidak hanya mengkhianati para pendiri, tetapi juga mengancam generasi penerus yang membutuhkan pijakan sejarah yang jelas.
Belakangan muncul klaim menyesatkan dalam sebuah buku ke-NU-an yang menyebutkan bahwa “Hasyim bin Yahya”—kakek Habib Luthfi bin Yahya—adalah salah satu pendiri NU, serta narasi bahwa NU lahir setelah ulama-ulama berkumpul di Masjidil Haram.
Klaim ini jelas tidak sesuai dengan fakta sejarah yang sudah tertulis dalam dokumen resmi NU dan penelitian akademik yang kredibel.
Sejarah Berdirinya NU
NU resmi berdiri pada 16 Rajab 1344 H / 31 Januari 1926 M di Surabaya. Pertemuan bersejarah ini berlangsung di kediaman KH Wahab Hasbullah di Kertopaten, Surabaya. Di sinilah para ulama sepakat mendirikan sebuah organisasi untuk menjaga tradisi keagamaan Aswaja di Nusantara.
KH Hasyim Asy’ari, ulama karismatik dari Jombang, kemudian ditetapkan sebagai Rais Akbar pertama NU.
Namun, proses menuju pendirian NU tersebut tidaklah instan. Ada rentetan peristiwa dan peran ulama besar yang menjadi jembatan sejarah tersebut terjadi.
Konteks Sosial dan Politik Menjelang Berdirinya NU
Awal abad ke-20 ditandai dengan munculnya berbagai organisasi Islam di Indonesia, seperti Sarekat Islam (1912), Muhammadiyah (1912), dan Persatuan Islam (1923). Dinamika ini menunjukkan kebangkitan umat Islam dalam merespons kolonialisme dan perubahan sosial.
Dinamika tersebut mendorong kelompok ulama tradisional merasa perlu membentuk wadah tersendiri untuk menjaga otoritas keilmuan pesantren, fiqh bermadzhab, dan tradisi keagamaan yang diwariskan para ulama salaf.
Selain itu, faktor eksternal juga memengaruhi. Pada tahun 1924, pemerintah Turki Utsmani di bawah Mustafa Kemal Attaturk menghapus kekhalifahan. Kebijakan tersebut menimbulkan perdebatan di dunia Islam, termasuk di Indonesia.
Para ulama Nusantara merasa perlu mengkonsolidasikan sikap agar umat tidak tercerabut dari akar tradisi keilmuan Islam yang mapan.
Peran KH. Kholil Bangkalan
KH. Kholil Bangkalan (1835–1925), seorang ulama kharismatik Madura, menjadi figur sentral yang memberi restu spiritual bagi berdirinya NU. Beliau dikenal sebagai guru dari banyak ulama besar Jawa dan Madura.
KH. Kholil tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan semangat perjuangan dan kebangkitan.
Dalam sejarah yang populer, KH. Kholil memberikan isyarat simbolik berupa tongkat kepada KH. Hasyim Asy’ari, seakan memberi pesan bahwa estafet perjuangan umat harus dilanjutkan. Restu beliau menjadi legitimasi moral yang sangat penting, sebab KH. Kholil adalah poros ulama pesantren yang dihormati di Nusantara.
Dengan demikian, kehadiran NU dapat dipandang sebagai kelanjutan dari visi besar KH. Kholil dalam menjaga tradisi Islam Nusantara.
Peran KH. Wahab Hasbullah
KH. Wahab Hasbullah (1888–1971) dikenal sebagai motor intelektual dan organisatoris NU. Beliau sebelumnya mendirikan Taswirul Afkar, sebuah forum diskusi yang menggabungkan santri, ulama, dan pemuda Muslim progresif. Forum ini menjadi embrio bagi lahirnya gagasan kebangkitan ulama.
Selain itu, KH. Wahab aktif menjalin komunikasi dengan pergerakan Islam internasional. Saat ulama dunia membicarakan isu penghapusan khilafah dan kebijakan baru di Hijaz (Mekkah-Madinah), termasuk rencana penguasa baru Hijaz akan menggusur makan Rasulullah SAW, KH. Wahab bersama KH. Mas Mansur berangkat ke Tanah Suci untuk mengonsolidasikan sikap umat.
Peran diplomatik KH. Wahab inilah yang memperkuat kesadaran pentingnya mendirikan organisasi ulama yang solid di tanah air.
Peran KH. Bisyri Sansuri
KH. Bisyri Sansuri (1886–1980) merupakan ulama ahli fiqh yang kelak menjadi Rais ‘Aam PBNU. Dalam fase awal, beliau turut menjadi pendukung kuat KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah.
KH. Bisyri dikenal tegas dalam menjaga otoritas fiqh bermadzhab Syafi’i dan menjadi benteng dalam melawan arus pemikiran puritan yang cenderung menolak tradisi.
Perannya bukan hanya mengawal aspek keilmuan, tetapi juga menguatkan basis legitimasi NU di kalangan pesantren. Keteguhan KH. Bisyri dalam memperjuangkan fiqh bermadzhab memberi warna kuat pada NU hingga sekarang.
Proklamasi Berdirinya NU
Puncak dari seluruh dinamika tersebut terjadi pada 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H) ketika NU resmi didirikan di Surabaya. KH. Hasyim Asy’ari ditetapkan sebagai Rais Akbar, sedangkan KH. Wahab Hasbullah menjadi penggerak utama di lapangan.
NU didirikan dengan dua misi besar: menjaga tradisi Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah ala madzhab empat, dan memperjuangkan kepentingan umat Islam Indonesia dalam menghadapi kolonialisme serta perubahan zaman.
Mementahkan Klaim Sepihak
Belakangan, ada upaya dari sebagian kelompok (klan Baalwi yang dimotori Habib Luthfi) yang berusaha mengklaim berdirinya NU dengan memasukkan Hasyim bin Yahya sebagai pendiri NU. Klaim semacam ini tidak memiliki dasar historis yang otentik.
Data sejarah yang dapat diverifikasi menunjukkan bahwa NU berdiri atas prakarsa kolektif para ulama pesantren, khususnya KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Kholil Bangkalan, KH. Bisyri Sansuri, serta dukungan banyak ulama lain dari Jawa dan Madura.Tidak ada nama Hasyim bin Yahya.
Dokumen resmi NU, catatan sejarah, dan riset akademik menegaskan bahwa proses pendirian NU bersifat ijma’ ulama, bukan monopoli satu pihak.
Meluruskan Klaim yang Menyesatkan
- Klaim “Hasyim bin Yahya sebagai pendiri NU”
Dalam dokumen resmi NU, nama-nama muassis jelas: KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, KH Abdul Halim (Majalengka), KH Asnawi (Kudus), dan beberapa kiai lainnya. Tidak ada catatan yang menyebutkan “Hasyim bin Yahya” sebagai pendiri. - Klaim “NU berdiri setelah ulama berkumpul di Masjidil Haram”
Fakta sejarah menunjukkan bahwa NU lahir di Surabaya melalui forum Komite Hijaz. Memang benar, isu Hijaz (penaklukan Mekkah oleh Ibn Saud) menjadi pemicu penting, tetapi forum ulama yang membentuk organisasi dilakukan di Nusantara, bukan di Masjidil Haram.
Jadi, apa pun alasannya, memelintir sejarah adalah tindakan pemutar balikan fakta yang berbahaya karena dapat merusak pemahaman generasi muda dan melemahkan persatuan umat.
Apalagi, pembelokan sejarah ini dilakukan secara sistematis dan dicekokkan kepada umat melalui buku mata pelajaran sekolah, seperti yang terjadi di Madrasah NU.
NU lahir dari hasil ikhtiar kolektif ulama Nusantara, dengan KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar, KH Wahab Hasbullah sebagai motor penggerak, KH Bisri Syansuri sebagai penopang keilmuan, dan restu KH Kholil Bangkalan sebagai legitimasi spiritual. Fakta ini tertulis jelas dalam dokumen NU, arsip sejarah, dan kajian akademik.
Menjaga sejarah tetap lurus adalah bagian dari menjaga martabat ulama dan organisasi. Karena itu, setiap upaya membelokkan sejarah NU harus dilawan dengan keberanian bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu bathil.
Ringkasan Fakta Sejarah Berdirinya NU
Berdasarkan sumber‐sumber resmi dan kajian sejarah, berikut adalah poin‐poin utama yang sudah cukup jelas:
-
Tanggal dan tempat berdiri
NU resmi berdiri pada 31 Januari 1926 Masehi, bertepatan dengan 16 Rajab 1344 Hijriah, di Surabaya, Jawa Timur. Lokasi pembentukan adalah di kediaman KH. Abdul Wahab Chasbullah di Kertopaten, Surabaya. -
Pihak pendiri
NU dibentuk oleh para ulama pesantren Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dari berbagai daerah di Jawa dan Madura serta beberapa ulama lainnya. Nama‐nama yang tercatat meliputi: KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Bishri Syansuri, KH Asnawi (Kudus), KH Nawawi (Pasuruan), KH Ridwan (Semarang), KH Maksum (Lasem), dan lain‐lain yang disebut dalam buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU. -
Motif dan latar belakang berdirinya
Ada beberapa motif utama:
-
Untuk melindungi dan mempertahankan tradisi Islam Aswaja, terutama dalam menghadapi paham‐paham baru dari luar yang dianggap mengancam (misalnya gerakan puritanisme/Wahhabi, anti‐taqlid, dll.).
-
Untuk mengorganisasi ulama dan pesantren agar lebih efektif merespon tantangan zaman, bukan hanya bergerak sendiri‐sendiri.
-
Untuk menjaga kestabilan sosial dan keberlanjutan pendidikan Islam tradisional di tengah kolonialisme dan modernisasi.
-
-
AD/ART dan pengakuan resmi
Menurut “Ikhtisar Sejarah NU 1344 H/1926 M”, organisasi ini sejak awal dibentuk sebagai gerakan sosial-keagamaan yang modern dalam cara pengorganisasian. AD/ART NU disusun, dan NU sempat didaftarkan ke pemerintahan Hindia Belanda (resmi diakui) pada tahun 1930. -
Prinsip dasar organisasi
Di dalam situs resmi NU disebut bahwa NU menerapkan prinsip dasar berupa Kitab Qanun Asasi, I’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah, serta Khittah NU sebagai dasar berpikir dan bertindak.
Klaim Habib Luthfi dan Kontroversi “Pembelokan Sejarah”
Ada beberapa pernyataan yang muncul dari Habib Luthfi bin Yahya atau dari kalangan yang mengutip narasi beliau yang menyatakan bahwa:
-
Kakeknya, Habib Hasyim bin Umar bin Yahya (Pekalongan), memiliki peran sebagai muassis (pendiri) NU, atau bahwa Habib Hasyim memberikan restu awal, sebagai salah satu titik kunci berdirinya NU.
-
Narasi bahwa sebelum berdirinya NU, beberapa ulama besar di Mekah (Haramain) melakukan istikharah dan kemudian menunjuk bahwa Kiai Hasyim Asy’ari untuk menemui dua orang: Habib Hasyim Pekalongan dan KH Kholil Bangkalan sebagai persyaratan agar NU bisa berjalan. Narasi ini sering disebut “versi Habib Luthfi.”
Tanggapan dan Koreksi dari Sumber Resmi dan Sejarawan NU
-
NU Online sendiri memuat artikel tanggapan: “Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (I)” oleh Muhammad Ali Rahman, yang menyebut bahwa narasi versi tersebut mengandung keganjilan. Di antaranya karena tidak mencantumkan tahun peristiwa, dan banyak bagian yang tidak ada bukti primer atau catatan sejarawan yang dapat diverifikasi.
-
Dari pengamat sejarah, seperti Riadi Ngasiran, disebut bahwa klaim sepihak tidak bisa dijadikan pijakan sebagai sumber sejarah. Sumber sejarah haruslah fakta, dokumen, buku, risalah rapat, memoar—yang jelas dan tersedia. Narasi lisan yang muncul belakangan dari Habib Luthfi terverifikasi tidak otentik.
-
Buku “Pelajaran Ahlusunnah Waljamaah Ke-NU-an Jilid 1” (Madrasah Diniyah & Pondok Pesantren, dari RMI PCNU Kabupaten Tegal) disebut memasukkan narasi tersebut, dan PBNU menyatakan keprihatinannya bahwa ada materi ajar di madrasah yang memuat sejarah berdirinya NU dengan fakta yang tidak tepat.
Dari upaya pembelokan sejarah ini, warga NU harus sadar pentingnya melek sejarah agar umat dapat melanjutkan perjuangan NU sesuai semangat awal.
Warga NU harus senantiasa memiliki ghiroh menjaga otentisitas NU demi agama, bangsa, dan peradaban, dan siap menghadang siapapun yang melakukan upaya-upaya pembelokan sejarah. (SN)
