Aspirasi SantriEditor's PicksKaderisasiKronikaMasyayikh

Malam Istighotsah Silatda Kader NU Sumbagsel: Merawat Ideologi, Menguatkan Barisan

Rangkaian kegiatan Silaturahmi Daerah (Silatda) Kader Nahdlatul Ulama se-Sumatera Selatan malam ini diisi dengan istighotsah, mujahadah, dan muwajjahah bersama para masyayikh serta tokoh pengkaderan nasional. Agenda ini bukan sekadar seremonial, melainkan ruang batin untuk menguatkan kembali ruh perjuangan kader NU di tengah tantangan zaman.

Malam penuh doa dan harap ini digelar di Lapangan Desa Tawang Rejo, BK 8 Belitang, OKU Timur, pada Sabtu malam, dimulai pukul 20.00 WIB hingga 23.30 WIB. Ribuan kader dari berbagai daerah Sumbagsel, Sumatera Selatan, Jambi, hingga Lampung, hadir tumpah ruah mengikuti acara dengan penuh khidmat dan semangat, meskipun cuaca gerimis dan kondisi lapangan sempat becek akibat hujan pada beberapa hari terakhir.

Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan menyanyikan Yalal Wathon dan Mars PKPNU. Lagu-lagu kebangsaan NU ini kembali membakar semangat kebersamaan dan cinta tanah air para kader, seakan menegaskan kembali bahwa NU adalah rumah besar perjuangan agama dan kebangsaan.

Istighotsah dan mujahadah yang dipimpin oleh Yai Supri dan Yai Machfudz dari OKI, menghadirkan suasana spiritual yang mendalam. Doa-doa dipanjatkan untuk keselamatan bangsa, kekuatan umat, dan keistiqamahan kader NU agar tetap setia menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dan 9 Perintah Kader di tengah arus zaman yang terus berubah.

Hadir dalam agenda ini sejumlah tokoh nasional dan masyayikh NU, di antaranya KH. Mun’im, KH. Adnan, KH. Abdul Karim Machfudz (Gus Karim), KH. Hernowo (Direktur Krakatau Steel), serta Prof. Atik, ahli pesawat dari PT Dirgantara Indonesia, dan tokoh-tokoh pengkaderan lainnya. Kehadiran mereka menjadi peneguh bahwa NU bukan hanya kuat secara tradisi keilmuan dan spiritual, tetapi juga hadir di dalam berbagai sektor strategis bangsa.

Dalam sesi muwajjahah dan motivasi, KH. Abdul Karim Machfudz (Gus Karim) menegaskan pentingnya istiqamah dalam satu barisan perjuangan, yakni barisan yang dirintis oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Menurutnya, kader NU harus tetap tegak lurus pada manhaj dan nilai perjuangan para muassis.

“Barisan kita jelas, barisannya Mbah Hasyim Asy’ari. Selama kita berada di barisan ini, insya Allah NU akan tetap kuat dan bermartabat,” pesan Gus Karim, yang disambut semangat para kader.

Sementara itu, KH. Mun’im memberikan wejangan yang menenangkan sekaligus menggugah. Ia mengingatkan agar para kader tidak mudah galau dan khawatir menghadapi dinamika organisasi.

“Boleh jadi secara organisatoris NU hari ini terlihat carut-marut. Tapi jangan lupa, kita ini diikat oleh ideologi. Organisasi itu penting, tapi ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah itulah yang membuat kita tetap setia dan tidak goyah,” ujarnya tegas.

Sementara, dengan gaya khas yang renyah dan penuh humor cerdas, KH. Adnan mengajak kader melihat NU dari sisi yang lebih membumi. Ia menyinggung kondisi masyarakat Sumatera yang wilayahnya luas, banyak kebun dan ladang, serta rawan kejahatan.

“Beruntung masyarakat Sumatera ada NU. Karena ada NU, orang sering kumpul-kumpul, tahlilan, yasinan, pengajian. Itu yang membuat orang disini aman dan panjang umur,” candanya, yang disambut tawa dan tepuk tangan meriah.

“Coba kalau tidak ada NU,” lanjutnya, menyiratkan betapa NU telah menjadi perekat sosial yang nyata di tengah masyarakat.

Adapun KH. Hernowo menekankan satu nilai fundamental dalam ber-NU, yakni ikhlas. Menurutnya, keikhlasan adalah modal utama agar kader tetap betah, setia, dan tidak mudah goyah oleh kepentingan sesaat.

“Kalau sudah ikhlas, kita tidak mudah kecewa. Ikhlas itulah yang membuat kita kuat, tahan uji, dan terus berkhidmat di NU,” tuturnya penuh makna.

Meski cuaca kurang bersahabat, berkat kerja keras panitia yang diketuai oleh Kader Mustangin bersama seluruh tim, lokasi acara tetap tertata rapi dan nyaman. Semangat gotong royong panitia menjadi cermin nyata nilai-nilai ke-NU-an yang hidup dan bekerja, bukan sekadar slogan.

Malam istighotsah ini menjadi penanda kuat bahwa kader NU tidak hanya digembleng secara organisatoris, tetapi juga dikuatkan secara spiritual dan ideologis. Doa, nasihat ulama, dan kebersamaan menjadi bekal penting menuju agenda berikutnya.

Rangkaian Silatda akan dilanjutkan pada Minggu pagi, mulai pukul 08.00 WIB dengan Apel Akbar Kader dan Pengajian Akbar yang akan diisi oleh KH. Marzuki Mustamar dari Jawa Timur.

Insya Allah, sejumlah tokoh nasional dan daerah dijadwalkan hadir, di antaranya Bupati OKU Timur Ir. Lanosin Hamzah, Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, serta tokoh-tokoh penting lainnya.

Perhelatan akbar ini menjadi bagian penting dari peringatan Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama, 31 Januari 2026, sekaligus momentum konsolidasi kader untuk meneguhkan kembali khidmah NU: menjaga agama, merawat tradisi, dan mengawal keutuhan NKRI. (SN)

Related posts