Aspirasi SantriInfo PesantrenKaderisasiPemerintahanPolitik

Kyai dan Santri Adalah Cikal Bakal TNI (Tentara Nasional Indonesia)

SANTRI DAN TNI
Oleh KH. Ali Badri Masyhuri

Jauh sebelum berdirinya Negara Kesantuan Republik Indonesia, kaum santri sudah memiliki kesatuan-kesatuan tantara yang besar, yang paling besar adalah Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbullah, keduanya dipanglimai dan dikomandani oleh para Kyai, para Kyai itu juga yang menggembleng mereka dengan ilmu kanuragan dan ilmu siasat perang.

Setelah lama negeri ini dijajah Belanda, Jepang kemudian masuk ke negeri ini pada tanggal 11 januari 1942 dan kemudian mengalahkan Belanda pada tanggal 8 Maret, sejak hari itu Jepang resmi menggantikan Belanda didalam menjajah Indonesia. Jepang menjajah bangsa ini lebih kejam dari Belanda, bangsa inipun lebih menderita, bahkan para imigran Hadramaut dan Cina yang awalnya santai bekerja pada Belanda dan orang-orang Eropa lainnya juga mengalami kepanikan, mereka tak lagi menikmati status sosial dan pekerjaan dengan gaji tinggi, mereka juga tercekam!

Namun di satu sisi, kekejaman Jepang itu ada hikmahnya bagi para imigran, karena kekejaman Jepang itu kemudian membuat pertikaian antar imigran berhenti total, khususnya pertikaian sesama imigran Hadramaut yang kemudian tergabung di Rabithah Alawiyah dan Al-Irsyad, yang mana mereka bertikai sejak 1905 gara-gara kafaah nasab dalam pernikahan dan gara-gara rebutan gelar “sayyid”. Pertikaian itu membuat malu bangsa Arab di negeri-negeri Arab, bahkan Kerajaan Saudi dan Kerajaan Al-Katsiri Hadramaut tidak mampu menghentikannya. Pertikaian yang menghabiskan dana sangat besar. Andai dana itu digunakan untuk membantu perjuangan kemerdekaan!

Setelah Jepang merebut negeri ini dari Belanda, Belanda kemudian meminta tolong pada Amerika dan negara-negara sekutu dan merekapun mengancam Jepang, sehingga Jepang menjadi was-was dan merasa perlu bekerja sama dengan pribumi untuk menghadapi pasukan Amerika dan sekutunya, maka pada tanggal 3 oktober tahun 1943, pemerintah Jepang di Indonesia membuat pasukan PETA (Pembela Tanah Air), pemerintah Jepang meminta para Kiyai petinggi Laskar Pesantren (Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbullah) untuk membantu penggemblengan pasukan PETA.

Pada tanggal 9 Agustus 1945, Amerika membombardir dua kota di Jepang, yaitu Hiroshima dan Nagasaki, serangan itu menewaskan 246.000 orang yang kebanyakan adalah warga sipil. Kontan saja Jepang menyerah. Adapun yang di Indonesia, Jepang langsung berdamai dengan pribumi, bahkan Jepang membantu proses kemerdekaan dan pendirian Republik Indonesia.

Setelah berdiri negara Indonesia, tentara pertama bentukan pemerintah Indonesia adalah TKR (Tentara Rakyat Indonesia). Dari TKR kemudian berubah menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia), kemudian berubah menjadi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), kemudian hingga hari ini menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia).

Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 agustus 1945, dua bulan kemudian, tepatnya tanggal 5 oktober, pemerintah Indonesia membentuk tantara resmi dengan nama Tentara Keamanan Rakyat dan disingkat TKR, dengan melibatkan para petinggi Laskar santri dan pasukan PETA. Setelah dibuka pendaftaran, hanya dalam lima hari dan di Jawa saja TKR telah memiliki seratus ribu tantara dan 95 % dari mereka adalah laskar santri; 95 % tentara Indonesia angkatan pertama berasal dari kaum santri! Seratus ribu tentara itu kemudian dibagi menjadi sepuluh divisi dan komandannya adalah Letnan Kolonel Kiyai Haji Sam’un (Ulama Banten) dan beliau pensiun dari militer dengan pangkat Brigedir Jendral.

Dalam Angkatan pertama TKR, terdapat banyak Kiyai menjadi komandan hingga tingkat Batalion, termasuk komandan Resimen yang membawahi beberapa batalion, seperti Komandan Resimen 17 Letnan Kolonel Kiyai Haji Iskandar Idris dan Komandan Batalion Malang Mayor Kiyai Haji Iskandar Sulaiman yang saat itu juga menjabat sebagai Rois Suriyah PC-NU Malang.

Sejarah itu tersimpan dalam Arsip Nasional dan entah kenapa tidak dimasukkan dalam buku-buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah.

Tidak lama dari dibentukknya TKR, setelah Amerika dan sekutunya benar-benar mengancam Indonesia, kembali kaum santri menorehkan sejarah, yaitu keluarnya fatwa jihad melawan penjajah dari KH. Hasyim Asy’ari, pendiri dan ketua umum pertama NU (Nahdhatul Ulama). Ini adalah fatwa jihad pertama sejak berdirinya Negara Republik Indonesia yang pada puncaknya dapat membakar semangat perang dalam peristiwa 10 November di Surabaya.

Setelah Inggris memasuki dan menguasai Surabaya, para petinggi tantara Indonesia atau TKR berdiskusi dibawah arahan para Kiyai sepuh yang juga merupakan para penasehat militer, termasuk KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abbas Buntet Cirebon. Hasil diskusi itu menyepakati untuk merebut Surabaya dari Inggeris pada tanggal 9 November. Saat itu KH. Abbas Buntet sedang sakit sehingga datang terlambat ke Surabaya, atas keterlambatan beliau itu maka serangan yang dijadwalkan 9 November kemudian diundur ke tanggal 10 November.

Pada tahun 80an, Angkatan Laut TNI menemukan banyak bom aktif di dasar laut selat Madura, semua keheranan dan mempertanyakan dari mana asal usul bom aktif yang banyak itu, karena tidak pernah ada sejarah bahwa ada kapal perang tenggelam di selat Madura. Dan sepuluh tahun kemudian seorang wartawan Jawa Pos yang sedang bertugas di London (Inggris) memberitakan bahwa di sana baru ditemukan sebuah buku harian milik seorang pilot pesawat tempur asal Jerman yang pernah disewa Inggris untuk membombardir Surabaya pada peristiwa 10 November 1945.

Dalam buku harian itu tertulis bahwa dari atas pesawat tempur ia melihat Surabaya dipenuhi oleh orang-orang berpakaian putih, kemudian semua bom yang ia lemparkan terhempas hingga terjatuh di laut selat Madura, padahal ketinggian pesawat itu sudah amat dekat dengan bumi Surabaya sehingga aneh sekali kalau semua bom yang ia lempar tidak ada yang jatuh di tanah Surabaya.

Siapakah orang-orang berpakaian putih yang diceritakan oleh pilot pesawat tempur asal Jerman itu? tentu saja para Kiyai dan santri! Kenapa semua bom terhempas ke laut selat Madura? tentu saja itu karomah para Kiyai yang berjuang di Surabaya ketika itu!

Dari sejarah singkat itu kita tahu bahwa sejak awal para Kiyai dan santri memiliki andil besar dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia ini, khususnya terlibat langsung dalam kelahiran TNI. Maka kaum santri akan terus memberikan kontribusi didalam mengisi kemerdekaan negeri ini. Dan yang saya impikan adalah, andai suatu saat pesantren dapat kembali mewarnai kemiliteran Tentara Nasional Indonesia. (SN)

Related posts