Aspirasi SantriEditor's PicksInfo PesantrenKail (Kajian Ilmu)MaklumatSantri Keren

Maaf Saja Tidak Cukup, Trans7 Harus Beri Sanksi dan Lakukan Investigasi

Dua tiga hari ini, publik dikejutkan oleh tayangan program Exposed Uncensored di Trans7. Tayangan ini secara terang benderang menyerang pesantren Lirboyo, dengan menyorot Kyai Sepuh KH Anwar Manshur dan aktivitas santri secara provokatif. Dari framing yang dipilih, angle pengambilan gambar, hingga narasi voice-over jelas membentuk citra negatif: pesantren tampak kaku, tertutup, dan “feodal”.

Tayangan ini langsung memicu kemarahan masyarakat, alumni, dan santri, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Bukan Kekhilafan, Tapi Produksi yang Disengaja

Beberapa pihak mencoba meredam gelombang protes dengan menyebut ini “kesalahan produksi” atau “kekhilafan teknis”. Faktanya, tayangan seperti ini tentu melalui proses pra-produksi, pengambilan gambar, editing, dan penjadwalan siaran secara profesional.

Ini bukan rekaman spontan atau amatir. Setiap frame, voice-over, dan grafik dipilih dengan cermat untuk menimbulkan kesan negatif. Tayangan prime time ini menunjukkan satu fakta: semua dilakukan dengan sengaja, bukan kebetulan.

Pada tahap pra-produksi, tim kreatif Trans7 pasti berdiskusi untuk menentukan narasi dan target: menyorot pesantren tradisional sebagai institusi yang kaku dan konservatif. Pengambilan gambar dilakukan sedemikian rupa untuk menonjolkan adegan-adegan yang terlihat kuno dan tertutup. Editing menambahkan musik dramatis dan narasi provokatif. Semua tahap ini disusun untuk memastikan tayangan siap memicu reaksi publik—dan memang berhasil.

Gelombang Protes yang Tak Terbendung

Masyarakat pun merasa sangat geram dengan tayangan tersebut. Alumni Lirboyo yang tergabung dalam HIMASAL dan ISTIKMAL menggerakkan boikot nasional terhadap Trans7. Di Jakarta, aksi damai digelar di kantor Trans7, menuntut pertanggungjawaban manajemen stasiun.

Pesantren sendiri menegaskan bahwa tayangan ini menodai muruah, martabat, dan keluhuran pesantren, serta merusak citra santri yang disiplin dan beradab. Dampak moral tayangan ini nyata: bukan sekadar hiburan, tapi serangan terhadap institusi pendidikan yang sudah mendidik ribuan generasi.

Lebih mengkhawatirkan, tayangan ini menunjukkan keberpihakan ideologis yang jelas. Seperti kita tahu, beberapa tokoh dan artis dari kelompok tertentu, misalnya Wahabi, mendapat porsi tayang besar di stasiun Trans7 atau TransTV, sebut saja Teuku Wisnu dan sejumlah ustadz yang sealiran.

Narasi yang mereka kembangkan dalam tayangan mereka cenderung membangun persepsi negatif terhadap pesantren tradisional dan ajaran Aswaja Nusantara, yang umumnya disertai istilah “bid’ah”. Hal ini memperkuat dugaan adanya agenda terselubung: merendahkan pesantren moderat dan menegaskan dominasi narasi kelompok tertentu.

Konteks yang Lebih Besar

Serangan terhadap pesantren bukan fenomena baru; dari masa ke masa selalu muncul. Musibah runtuhnya musholla pesantren Alkhoziny di Buduran, Sidoarjo, yang menewaskan lebih dari 67 santri, seperti menjadi energi baru yang menggerakkan mereka untuk menyerang citra pesantren.

Termasuk tayangan yang dilakukan Trans7. Ini mereka lakukan memanfaatkan tragedi Buduran yang sedang menjadi perbincangan nasional untuk mendistorsi fakta, dan menyebarkan narasi negatif yang sama sekali tidak mencerminkan realitas pendidikan pesantren.

Merak tidak paham bahwa pesantren adalah laboratorium kehidupan yang semua kegiatan di dalamnya diarahkan untuk membentuk karakter santri secara holistik—spiritual, intelektual, sosial, dan moral, untuk menyiapkan mereka menghadapi tantangan dunia nyata.

Kasus tayangan Exposed Uncensored menegaskan bahwa ini produksi yang disengaja dan bukan kesalahan teknis. Surat permintaan maaf dari Trans7 tidak cukup untuk menebus kerugian moral yang ditimbulkan. Manajemen stasiun perlu bertindak tegas:

  1. Menyelidiki semua yang terlibat dalam proses produksi dan memberi sanksi kepada pihak yang terbukti menista pesantren, dan melakukan pemecatan.
  2. Menyusun kebijakan editorial yang menghormati keberagaman pendidikan dan nilai budaya lokal.
  3. Mengedukasi publik dan internal media mengenai etika produksi konten agar tidak merusak institusi pendidikan, khususnya pesantren.

Dari kasus ini, masyarakat, santri, dan kyai seluruh Indonesia harus bersatu menjaga marwah dan reputasi pesantren. Pesantren adalah pilar pendidikan bangsa dan aset moral yang harus dilindungi dari distorsi narasi, sensasionalisme media, dan serangan ideologis.

Perlindungan terhadap pesantren bukan hanya menjaga institusi, tapi juga menjaga integritas pendidikan agama yang moderat, inklusif, dan membentuk karakter generasi bangsa. (Oleh: Gus Damas Alhasy/SN)

Related posts