Aspirasi SantriEditor's PicksInfo PesantrenKail (Kajian Ilmu)Kesehatan

Mengapa Pesantren Salafiyah “Kurang Peduli Kebersihan”?

Ketika mendengar kata pesantren salafiyah, sebagian masyarakat langsung terbayang suasana klasik dengan bangunan sederhana, halaman berdebu, kamar asrama yang sempit, serta kamar mandi yang identik dengan genangan air dan bau tidak sedap.

Tidak jarang, muncul stigma bahwa santri pesantren salaf identik dengan jorok, berpenyakit kulit, dan kudisan (gudikan). Apakah stigma ini benar? Mengapa hal ini bisa terjadi? Mari kita telaah secara mendalam.

1. Latar Belakang Sejarah dan Sumber Daya

Pesantren salafiyah pada dasarnya adalah lembaga pendidikan yang lahir dari tradisi kesederhanaan. Fokus utamanya adalah pendalaman ilmu agama, bukan fasilitas atau kenyamanan hidup. Sejak dulu, para kiai mendidik santri dengan prinsip zuhud dan qana’ah—hidup sederhana, tidak berlebihan, dan menjauhi kemewahan.

Namun, ketika prinsip ini diinterpretasikan secara ekstrem, kesederhanaan kadang berubah menjadi abainya pengelolaan kebersihan. Ditambah lagi, banyak pesantren salaf berada di pedesaan dengan sumber daya terbatas. Biaya operasional sering kali mengandalkan swadaya santri atau masyarakat, sehingga prioritas anggaran lebih banyak ke kitab dan kebutuhan pokok, bukan fasilitas sanitasi modern.

2. Keterbatasan Edukasi tentang Kebersihan

Santri salaf dikenal tekun dalam ngaji kitab kuning, tetapi ironisnya sebagian belum mendapat edukasi memadai soal manajemen kebersihan. Ada anggapan bahwa urusan fisik tidak sepenting urusan ruhani. Padahal, kebersihan adalah bagian dari iman (الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ), sebagaimana ditegaskan Nabi Muhammad ﷺ.
Minimnya kurikulum yang menekankan Fiqh Thaharah secara praktis—bukan hanya teori—membuat sebagian santri tidak punya standar higienitas tinggi. Akibatnya, perilaku seperti berbagi handuk, jarang mencuci sarung, atau mandi seadanya menjadi hal lumrah.

3. Infrastruktur MCK yang Tidak Memadai

Masalah klasik di pesantren salaf adalah kamar mandi dan WC terbatas dibanding jumlah santri. Contoh: satu kamar mandi untuk 30–50 santri. Akibatnya, santri enggan mandi atau mencuci pakaian setiap hari karena antrean panjang. Air yang tidak mengalir lancar atau sumur kotor menambah kompleksitas masalah.

Dalam kondisi seperti itu, kutu air, gatal, dan kudis menjadi penyakit “langganan”. Hal ini bukan karena santri malas, tetapi karena sarana sanitasi memang tidak mendukung perilaku bersih.

4. Budaya Kolektif yang Mengakar

Faktor budaya juga memengaruhi. Di banyak pesantren, hidup berjamaah mengajarkan kebersamaan, tetapi kadang membuat standar personal hygiene menurun. Misalnya:

  • Satu kamar mandi dipakai ramai-ramai untuk mandi.
  • Satu kamar mandi model bak besar untuk puluhan bahkan ratusan santri.
  • Satu kain pel digunakan berkali-kali tanpa dicuci.
  • Rak sepatu dan sandal bercampur, memicu jamur dan kutu.
  • Sering tukar menukar baju, sarung atau pakain lainnya antar santri.
  • Kurang peduli terhadap kebersihan kamar tidur dan kamar mandi/MCK.

Ketika kebiasaan ini turun-temurun dan dianggap “biasa saja”, kesadaran menjaga kebersihan tidak tumbuh.

5. Kurangnya Manajemen dan Pengawasan

Sebagian pesantren salaf masih menggunakan model pengelolaan tradisional. Fokus utamanya: belajar dan mengaji. Sementara itu, divisi kebersihan, SOP sanitasi, atau petugas cleaning service jarang ada. Pengawasan pun terbatas, karena pengurus lebih sibuk mengurus kegiatan keagamaan.

Akibatnya, kebersihan lebih bersifat sukarela, bukan kewajiban dengan sistem reward and punishment. Padahal, tanpa manajemen yang jelas, sulit menjaga lingkungan yang sehat di tengah ribuan santri.

Perlu Paradigma Baru

Apakah ini berarti pesantren salafiyah harus berubah menjadi modern sepenuhnya? Tidak. Kesederhanaan tetap penting, tetapi kebersihan harus menjadi budaya.

Prinsip Islam sangat menekankan hal ini: “Inna Allaha jamilun yuhibbul jamal”—Allah itu indah dan mencintai keindahan. Maka, pengurus pesantren perlu:

  • Menyusun SOP kebersihan (toilet, asrama, dapur).
  • Mengedukasi santri bahwa bersih adalah wajib dan bagian dari ibadah.
  • Mengalokasikan dana untuk sanitasi yang layak.
  • Melibatkan santri dalam program pesantren bersih agar ada tanggung jawab kolektif.

Jika ini dilakukan, stigma pesantren “jorok dan gudikan” akan berganti menjadi citra pesantren yang bersih, sehat, dan berkah. (SN)

Penulis: Gus Damas Alhasy, SS.

Related posts